Rabu, 23 September 2015

Kebodohan Merusak Kebersamaan Sunnah Rasulullah

Orang-orang yang cerdas & berilmu niscaya mengetahui betapa pentingnya kebersamaan. Sehingga mereka benar-benar menjaga kebersamaan dlm jamaah kaum muslimin & penguasa (pemerintah)-nya. Adapun orang-orang yang bodoh, sama sekali tak mengerti betapa pentingnya kehidupan berjamaah dgn satu penguasa. Bahkan mereka tak mengerti mana yang lebih banyak antara satu & sepuluh. Yakni, mana yang lebih besar antara korupsi, kolusi, atau nepotisme (KKN) dgn pertumpahan darah kaum muslimin dlm perang saudara.
Seorang yang berilmu mengetahui bahwa dgn mengikuti bimbingan Sunnah Rasulullah n berikut penerapannya yang dicontohkan salafus shalih, pasti kaum muslimin akan terbimbing ke jalan yang terbaik. Maka, ia akan menghadapi penguasa yang dzalim dgn petunjuk & bimbingan dari Nabi n. Sedangkan orang-orang yang bodoh berjalan bersama emosi & hawa nafsunya, tanpa meminta bimbingan Rasulullah n. Mereka merasa lebih pandai & lebih cerdas dari para nabi & para ulama yang merupakan para pewarisnya. Merekalah kaum reaksioner Khawarij, yang selalu menyebabkan petaka & bencana di setiap zaman. Mereka tak memperbaiki keadaan –seperti pengakuan mereka– tetapi justru menghancurkan kebersamaan.
Banyak tulisan-tulisan mereka yang sampai kepada tangan penulis, dlm bentuk surat, selebaran, ataupun makalah-makalah. Hampir seluruhnya berisi “dalil-dalil” & “bukti-bukti” tentang kafirnya penguasa, yang kemudian berujung menghalalkan darah mereka. Tentu saja dgn nama samaran, alamat palsu, & penerbit yang tak jelas. Namun seperti CD yang diputar ulang, isinya tetap sama seperti ucapan Khawarij yang pertama: “Siapa yang tak berhukum dgn hukum Allah maka ia kafir.”
Tentu saja jawaban kita Ahlus Sunnah seperti jawaban Ali bin Abi Thalib z & para sahabat yang lain: “Kalimat yang haq, namun yang dimaukan adalah kebatilan.” Yakni, ayat-ayat & hadits-hadits dlm tulisan mereka adalah kalimat-kalimat yang haq & kita tak membantahnya. Namun, apa yang dimaukan dengannya?
Diriwayatkan dari ‘Ubaid bin Rafi’ bahwa ketika kaum Khawarij mengatakan “Tidak ada hukum kecuali hukum Allah”, Ali z pun berkata: “Kalimat yang haq, namun yang mereka maukan adalah kebatilan. Sungguh Rasulullah n telah menggambarkan kepada kami suatu kaum, maka kamipun telah mengenalinya. Yaitu sekelompok orang yang berbicara kebenaran, namun tak melewati ini –sambil mengisyaratkan ke tenggorokannya–. Mereka adalah makhluk-makhluk yang paling dibenci Allah l….” (HR. Muslim, Kitabuz Zakah juz 7 hal. 173)
Kalau saja mereka menulis dalil-dalil tersebut dlm rangka memperingatkan & mengancam, maka kamipun sepakat. Karena Al-Imam Ahmad t menyatakan dlm masalah wa’id (ancaman): “Biarkanlah ancaman seperti apa adanya, agar manusia menjadi takut.” Namun ketika men-ta’yin (menentukan si Fulan atau si Allan) kafir, tentu kita harus merincinya. Karena pada dalil-dalil itu bisa jadi yang dimaksud kufur ashghar (kafir kecil) atau kufur akbar (kafir besar), kafir amali atau kafir i’tiqadi, & lain-lain. Namun yang kita bahas kali ini adalah kebodohan mereka dlm penerapan dalil-dalil tersebut serta akibat dari kebodohan mereka.
Adapun kebodohannya, sangat jelas sekali. Karena mereka menerapkan dalil-dalil kepada orang-orang yang masih shalat, berpuasa, mengeluarkan zakat & pergi haji. Bukankah di antara hukum Allah l yang mendasar adalah ibadah tersebut? Berarti mereka –paling tidak– masih berhukum dgn hukum Allah l dlm perkara-perkara yang sangat penting tersebut, yang merupakan dasar-dasar keislaman. Oleh karena itulah, Rasulullah n melarang kita utk memerangi penguasa yang masih shalat.

Sudahkah kita siapkan bekal untuk kehidupan setelah mati ???.....


(Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta pada-NYA.
Setiap waktu Dia dalam kesibukan.) ( QS.Ar-Rahman: 29)

Ketika laut bergemuruh, ombak menggunung, dan angin bertiup kencang
menerjang, semua penumpang kapal akan panik dan menyeru, " Ya Allah!"

Ketika seseorang tersesat di tengah gurun pasir; kendaraan menyimpang
jauh dari jalurnya; dan para kafilah bingung menentukan arah perjalanannya,
mereka akan menyeru, " Ya Allah ! "

Ketika musibah menimpa, bencana melanda, dan tragedi terjadi, mereka
yang tertimpa akan selalu berseru, " Ya Allah!"

Ketika pintu-pintu permintaan telah tertutup, dan tabir-tabir permohonan
digeraikan, orang-orang mendesah, " Ya Allah !"

Ketika semua cara tak mampu menyelesaikan, setiap jalan terasa
menyempit, harapan terputus, dan semua jalan pintas membuntu, mereka
pun menyeru , " Ya Allah!"

Ketika bumi terasa menyempit dikarenakan himpitan persoalan hidup
dan jiwa serasa seolah tertekan oleh beban berat kehidupan yang harus
Anda pikul, menyerulah, " Ya Allah! "

Kuingat Engkau saat alam begitu gelap gulita,
dan wajah zaman berlumuran debu hitam
Kusebut nama-MU dengan lantang di saat fajar menjelang,
dan fajarpun merekah seraya menebar senyuman indah

Setiap ucapan baik, doa yang tulus, rintihan yang jujur, air mata yang
menetes penuh keikhlasan, dan semua keluhan yang menggudah-
gulanakan hati adalah hanya pantas ditujukan ke hadirat-NYA.

Setiap dini hari menjelang, tengadahkan kedua telapak tangan,
julurkan lengan penuh harap, dan arahkan terus tatapan matamu ke
arah-NYA untuk memehon pertolongan! Ketika lidah bergerak, tak lain
hanya untuk menyebut, mengingat dan berdzikir dengan nama-NYA.
Dengan begitu, hati akan tenang, jiwa akan damai, syaraf tak lagi
menegang, dan iman kembali berkobar-kobar.
Demikianlah, dengan selalu menyebut nama-NYA, keyakinan akan
semakin kokoh. Karena,
(Allah Maha Lembut terhadap hamba-hamban-NYA.) QS. Asy-Syu'ra:19

Allah : Nama yang paling bagus, susunan huruf yang paling
indah, ungkapan yang paling tulus, dan kata yang sangat berharga.
(Apakah kamu tahu ada seseorang yang sama dengan Dia
(yang patut disembah) ? ) QS.Maryam : 65

Allah : Milik-NYA semua kekayaan, keabadian, kekuatan, pertolongan,
kemuliaan, kemampuan, dan hikmah.
(Milik siapakah kerajaan pada hari ini? Milik Allah Yang Maha Esa
lagi Maha Mengalahkan) QS. Ghafir : 16

Allah: dari-NYA semua kasih-sayang, perhatian, pertolongan, bantuan,
cinta dan kebaikan.
(Dan, apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah
datangnya) QS. An-Nahl: 53

Allah: Pemilik segala keagungan, kemuliaan, kekuatan dan keperkasaan.
Betapun kulukiskan keagungan-MU dengan deretan huruf,
Kekudusan-MU tetap meliputi semua arwah
Engkau tetap Yang Maha Agung, sedang semua makna,
akan lebur, mencair, di tengah keagungan-MU, wahai Rabku

Ya Allah, gantikanlah kepedihan ini dengan kesenangan, jadikan
kesedihan itu awal kebahagian, dan sirnakan rasa takut ini menjadi
rasa tentram. Ya Allah, dinginkan panasnya kalbu dengan salju
keyakinan, dan padamkan bara jiwa dengan air keimanan.

Wahai Rabb, anugerahkan pada mata yang tak dapat terpejam
ini rasa kantuk dari-MU yang menentramkan, tuangkan dalam jiwa yang
bergolak ini kedamaian, dan ganjarlah dengan kemenangan yang nyata.
Wahai Rabb, tunjukanlah pandangan yang kebingungan ini kepada
cahaya-MU, bimbinglah sesatnya perjalanan ini ke arah jalan-MU
nmerapat ke hidayah-MU!

Ya Allah, sirnakan keraguan terhadap fajar yang pasti datang dan
memancar terang, dan hancurkan perasaan yang jahat dengan
secercah sinar kebenaran. Hempaskan semua tipu daya setan dengan
bantuan bala tentara-MU!

Ya Allah, sirnakan dari kami rasa sedih dan duka, dan usirlah
kegundahan dari jiwa kami semua!

Kami berlindung kepada-MU dari setiap rasa takut yang mendera,
hanya kepada-MU kami bersandar dan bertawakal, hanya kepada-MU
kami memohon, dan hanya dari-MU lah semua pertolongan.
Cukuplah Engkau sebagai Pelindung kami, karena Engkaulah
sebaik-baik Pelindung dan Penolong.

Diam, Inilah Caraku Mencintaimu KarenaNya

Bismillahirrahmanirrahiim... Engkau datang memintaku menjaga kesucian diri dengan jalan yang suci. Sungguh tawaran yang membuatku terheran mengingat engkau adalah seorang muslimah yang dikaruniakan Allah ke-shalehah-an, kecerdasan, dan tidak lupa engkaupun memiliki wajah yang anggun, sehingga mungkin itu juga yang menyebabkan para laki-laki muslim lainnya sering datang untuk meminangmu. Hal itu kurasa adalah sebuah kewajaran, lantaran laki-laki muslim yang mana yang tidak tertarik dengan muslimah yang shalehah? Dan akupun juga muslim, wajar jika seorang muslim memiliki rasa berkeinginan untuk menjadi pemimpin bagi muslimah sholehah bagi dunia dan akhiratnya kelak. Namun apa daya, aku sebagai muslim ketika itu belum cukup siap untuk meminangmu, oleh karenanya selama ini akupun diam. Namun, engkau datang dengan harapan yang besar untuk jalan yang suci itu, harapan yang mengingatkanku bahwa Allah adalah Maha kaya dan mampu memberikan kekayaan kepada siapa yang bersedia menjalankan niat suci itu, akupun tak pernah ragu mengenai hal itu karena akupun yakin. Dorongan itu membuatku begitu semangat untuk bertemu orang tuamu dengan 'bekal' yang seadanya, namun tidaklah semua itu berjalan dengan Berkah jika aku tidak meminta pertimbangan kepada Allah, lantaran Allah Maha mengetahui Yang Terbaik bagi kita semua. Maka aku meminta kepadamu untuk memikirkan dan mempertimbangkan mengenai hal ini dalam beberapa hari. Ku meminta pertimbangan kepadaNya, hingga suatu ketika timbullah pertimbangan yang belum sempat kita perhitungkan. Aku sadar bahwa aku masih belum siap untuk mengaplikasikan niat suci itu, mengingat bukan hanya harta yang menjadi pertimbangan untuk mengaplikasikan baiknya jalan itu, engkaupun tentunya juga tahu di mana keluargapun seharusnya menjadi pertimbangan tambahan mengingat pernikahan juga bertujuan untuk menyatukan dua keluarga. Dan mengenai itu aku belum sampai kepada titik temu walaupun aku sudah berusaha mencobanya kepada mereka, orang tuaku. Apa boleh buat aku harus memutuskan hal yang sebenarnya tidak sanggup kuputuskan, namun atas dasar keimanan engkau memberanikan diri untuk menyatakan itu, zalim jika diriku harus bersikap tidak tegas mengingat permintaanmu atas urusan itu adalah permintaan yang suci. Maka kucoba memutuskan kepadamu bahwa saat ini aku belum mampu meminangmu, meskipun jujur ku sadari bahwa keputusan ini sangat berat bagi seorang muslim yang senantiasa membiasakan diri berdoa kepada Rabbnya untuk mendapatkan seorang muslimah yang shalehah. Namun karena keputusan ini adalah yang terbaik bagi hati masing-masing, maka atas dasar keimanan pula, ku ikhlashkan dirimu untuk memilih laki-laki muslim yang lain, yang baik dari sisi dunia dan akhiratmu dan dari sisi Rabbmu. Dan tidaklah keputusan ini sia-sia mengingat aku membutuhkan perjuangan yang besar untuk merelakan diriku berpisah dengannya karena Allah. Aku yakin bahwa setiap usaha yang bersungguh-sungguh dalam menjauhkan diri dari apa yang Allah Benci adalah Jihad, maka jika ini jihad, aku yakin bahwa Allah akan memberikan hadiah terbaik bagi mereka yang berbuat baik karenaNya. Muslimah itu merupakan perhiasan dunia namun ku yakin jika aku merelakan dia karenaNya maka aku Berharap Allah mengkaruniakanku pendamping yang lebih baik bagiku dan baginya suatu saat nanti. Beberapa hari lagi aku harus menyatakan keputusan itu kepadamu. Namun, sempat terlintas di fikiranku untuk memintamu menungguku, lantaran ada rasa khawatir jika aku tidak mendapatkan jodoh seperti dirimu. Maka ku coba untuk meminta pertimbangan lagi kepada Pemilik hati mengenai hal itu. Hingga akupun mulai mencermati jika saja engkau harus menerima permintaan itu maka aku harus berfikir ulang mengingat menunggu adalah sebuah penderitaan bagi seseorang, dimana menunggu mengenai hal itu akan cenderung menumbuhkan harapan kepada seseorang yang akan menjadi teman hatinya kelak dan tentunya juga rasa kekhawatiran akan keadaan buruk dapat cenderung terbayang sedangkan segala harapan telah tumbuh subur di dalam dada. Hingga kesedihanpun hadir ditengah-tengah hal yang tidak pernah diperkirakan. Ternyata baru tersadar bahwa usaha mendapatkan siapa yang diharapkan itu menjadi sia-sia dan hal tersebut justru dapat mengotori hati karena sempat terisi oleh hal yang belum sepatutnya terlahir di dalamnya. Walaupun kita sama-sama mengetahui antara batasan-batasan yang terjalin antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahrim, namun kita bukan Nabi sedangkan Nabi Adam yang pernah tinggal di Syurga dan beliau juga dapat melihat iblis saja masih dapat terjerumus oleh rayuan iblis, lalu bagaimana dengan kita yang jelas-jelas bukan seorang Nabi dan bukan orang yang dapat melihat iblis akankah kita dapat berbuat lebih hebat daripada beliau jika bukan karena kita mengikuti Perintah Allah dengan menjauhkan diri dari langkah-langkah syaitan? Kita memang sama-sama belum tahu siapa jodoh kita nanti dan kita tidak memiliki kekuasaan untuk menentukan siapa jodoh kita walaupun kita berusaha dengan kekuatan kita, terkecuali jika Allah yang menghendaki. Jika kamu adalah perempuan yang akan halal aku Cintai kelak, seharusnya aku tidak membiarkanmu menderita lantaran menunggu seseorang yang belum pasti menjadi pendampingmu. Bukankah jodoh tidak akan tertukar jika diri kita itu baik? Jika memang engkau adalah jodohku, untuk apa aku biarkan engkau menunggu sedangkan tanpa harus menuggupun Allah akan Mengkaruniakan seseorang dengan jodohnya dengan cara yang Berkah, bukankah Keberkahan adalah tujuan kita untuk menempuh jalan suci itu? Lalu ku tersadar beberapa hari ini tawaran suci itu memenuhiku waktuku, dari kadar terberat hingga kadar terendah dalam usaha merelakan sebuah perhiasan. Namun Hadiah Allah jauh lebih Indah, bukan? Hal inilah yang membuatku menyatakan kepadanya di kemudian hari, dan kamipun menemumpuh hidup masing-masing. Saudaraku, ternyata usaha meng-ikhlas-kan diri itu mampu meringankan diri dan jiwa. Baru kusadari bahwa Allah telah mengajarkanku untuk ikhlas terhadap sesuatu godaan terbesar bagi Ummat Rasulullah, semoga keikhlasahan ini mengajarkanku untuk ikhlas terhadap hal lainnya hingga Keberkahanpun datang menjemput. Biarlah Allah memeilih tanpa harus kita melakukan hal yang tidak DiridhaiNya, bukankah KeridhaanNya yang kita cari? Maka ku tekadkan kepada Sang Pemilik jiwa bahwa ku pelihara kesucian ini untukNya Kemudian ku lepaskan apa yang tak baik bagiku demi mencari KeridaanNya Dan, ku relakan keinginan hati dari ketidak Ridhaan kepada kepatuhan Rabb, Sampaikanlah kami kepada kesucian diri Berharap Engkau Mencintai kami dan Engkau tumbuhkan Cinta itu di hati kami hingga Cinta itu menumbuhkan keengganan di hati untuk menjadikan kami tidak cenderung kepada Cinta selainMu Allahuma Amiin

Indahnya Cinta Karena Allah

“Tidaklah seseorang diantara kalian dikatakan beriman, hingga dia mencintai sesuatu bagi saudaranya sebagaimana dia mencintai sesuatu bagi dirinya sendiri.” Secara nalar pecinta dunia, bagaimana mungkin kita mengutamakan orang lain dibandingkan diri kita? Secara hawa nafsu manusia, bagaimana mungkin kita memberikan sesuatu yang kita cintai kepada saudara kita? Pertanyaan tersebut dapat terjawab melalui penjelasan Ibnu Daqiiqil ‘Ied dalam syarah beliau terhadap hadits diatas (selengkapnya, lihat di Syarah Hadits Arba’in An-Nawawiyah). (“Tidaklah seseorang beriman” maksudnya adalah -pen). Para ulama berkata, “yakni tidak beriman dengan keimanan yang sempurna, sebab jika tidak, keimanan secara asal tidak didapatkan seseorang kecuali dengan sifat ini.” Maksud dari kata “sesuatu bagi saudaranya” adalah berupa ketaatan, dan sesuatu yang halal. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh An-Nasa’i. “…hingga dia mencintai bagi saudaranya berupa kebaikan sebagaimana dia mencintai jika hal itu terjadi bagi dirinya.” Syaikh Abu Amru Ibnu Shalah berkata, “Hal ini terkadang dianggap sebagai sesuatu yang sulit dan mustahil, padahal tidaklah demikian, karena makna hadits ini adalah tidak sempurna iman seseorang diantara kalian sehingga dia mencintai bagi keislaman saudaranya sebagaimana dia mencintai bagi dirinya. Menegakkan urusan ini tidak dapat direalisasikan dengan cara menyukai jika saudaranya mendapatkan apa yang dia dapatkan, sehingga dia tidak turut berdesakan dengan saudaranya dalam merasakan nikmat tersebut dan tidak mengurangi kenikmatan yang diperolehnya. Itu mudah dan dekat dengan hati yang selamat, sedangkan itu sulit terjadi pada hati yang rusak, semoga Allah Ta’ala memaafkan kita dan saudara-saudara kita seluruhnya.” Abu Zinad berkata, “Sekilas hadits ini menunjukkan tuntutan persamaan (dalam memperlakukan dirinya dan saudaranya), namun pada hakekatnya ada tafdhil (kecenderungan untuk memperlakukan lebih), karena manusia ingin jika dia menjadi orang yang paling utama, maka jika dia menyukai saudaranya seperti dirinya sebagai konsekuensinya adalah dia akan menjadi orang yang kalah dalam hal keutamaannya. Bukankah anda melihat bahwa manusia menyukai agar haknya terpenuhi dan kezhaliman atas dirinya dibalas? Maka letak kesempurnaan imannya adalah ketika dia memiliki tanggungan atau ada hak saudaranya atas dirinya maka dia bersegera untuk mengembalikannya secara adil sekalipun dia merasa berat.” Diantara ulama berkata tentang hadits ini, bahwa seorang mukmin satu dengan yang lain itu ibarat satu jiwa, maka sudah sepantasnya dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana mencintai untuk dirinya karena keduanya laksana satu jiwa sebagaimana disebutkan dalam hadits yang lain: “Orang-orang mukmin itu ibarat satu jasad, apabila satu anggota badan sakit, maka seluruh jasad turut merasakan sakit dengan demam dan tidak dapat tidur.” (HR. Muslim) “Saudara” yang dimaksud dalam hadits tersebut bukan hanya saudara kandung atau akibat adanya kesamaan nasab/ keturunan darah, tetapi “saudara” dalam artian yang lebih luas lagi. Dalam Bahasa Arab, saudara kandung disebut dengan Asy-Asyaqiiq . Sering kita jumpa seseorang menyebut temannya yang juga beragama Islam sebagai “Ukhti fillah” (saudara wanita ku di jalan Allah). Berarti, kebaikan yang kita berikan tersebut berlaku bagi seluruh kaum muslimin, karena sesungguhnya kaum muslim itu bersaudara. Jika ada yang bertanya, “Bagaimana mungkin kita menerapkan hal ini sekarang? Sekarang kan jaman susah. Mengurus diri sendiri saja sudah susah, bagaimana mungkin mau mengutamakan orang lain?” Wahai saudariku -semoga Allah senantiasa menetapkan hati kita diatas keimanan-, jadilah seorang mukmin yang kuat! Sesungguhnya mukmin yang kuat lebih dicintai Allah. Seberat apapun kesulitan yang kita hadapi sekarang, ketahuilah bahwa kehidupan kaum muslimin saat awal dakwah Islam oleh Rasulullah jauh lebih sulit lagi. Namun kecintaan mereka terhadap Allah dan Rasul-Nya jauh melebihi kesedihan mereka pada kesulitan hidup yang hanya sementara di dunia. Dengarkanlah pujian Allah terhadap mereka dalam Surat Al-Hasyr: “(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar(ash-shodiquun). Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 8-9) Dalam ayat tersebut Allah memuji kaum Muhajirin yang berhijrah dari Makkah ke Madinah untuk memperoleh kebebasan dalam mewujudkan syahadat mereka an laa ilaha illallah wa anna muhammadan rasulullah. Mereka meninggalkan kampung halaman yang mereka cintai dan harta yang telah mereka kumpulkan dengan jerih payah. Semua demi Allah! Maka, kaum muhajirin (orang yang berhijrah) itu pun mendapatkan pujian dari Allah Rabbul ‘alamin. Demikian pula kaum Anshar yang memang merupakan penduduk Madinah. Saudariku fillah, perhatikanlah dengan seksama bagaimana Allah mengajarkan kepada kita keutamaan orang-orang yang mengutamakan saudara mereka. Betapa mengagumkan sikap itsar (mengutamakan orang lain) mereka. Dalam surat Al-Hasyr tersebur, Allah memuji kaum Anshar sebagai Al-Muflihun (orang-orang yang beruntung di dunia dan di akhirat) karena kecintaan kaum Anshar terhadap kaum Muhajirin, dan mereka mengutamakan kaum Muhajirin atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka (kaum Anshar) sebenarnya juga sedang berada dalam kesulitan. Allah Ta’aala memuji orang-orang yang dipelihara Allah Ta’aala dari kekikiran dirinya sebagai orang-orang yang beruntung. Tidaklah yang demikian itu dilakukan oleh kaum Anshar melainkan karena keimanan mereka yang benar-benar tulus, yaitu keimanan kepada Dzat yang telah menciptakan manusia dari tanah liat kemudian menyempurnakan bentuk tubuhnya dan Dia lah Dzat yang memberikan rezeki kepada siapapun yang dikehendaki oleh-Nya serta menghalangi rezeki kepada siapapun yang Dia kehendaki. Tapi, ingatlah wahai saudariku fillah, jangan sampai kita tergelincir oleh tipu daya syaithon ketika mereka membisikkan ke dada kita “utamakanlah saudaramu dalam segala hal, bahkan bila agama mu yang menjadi taruhannya.” Saudariku fillah, hendaklah seseorang berjuang untuk memberikan yang terbaik bagi agamanya. Misalkan seorang laki-laki datang untuk sholat ke masjid, dia pun langsung mengambil tempat di shaf paling belakang, sedangkan di shaf depan masih ada tempat kosong, lalu dia berdalih “Aku memberikan tempat kosong itu bagi saudaraku yang lain. Cukuplah aku di shaf belakang.” Ketahuilah, itu adalah tipu daya syaithon! Hendaklah kita senantiasa berlomba-lomba dalam kebaikan agama kita. Allah Ta’ala berfirman: “Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqoroh: 148) Berlomba-lombalah dalam membuat kebaikan agama, bukan dalam urusan dunia. Banyak orang yang berdalih dengan ayat ini untuk menyibukkan diri mereka dengan melulu urusan dunia, sehingga untuk belajar tentang makna syahadat saja mereka sudah tidak lagi memiliki waktu sama sekali. Wal iyadzu billah. Semoga Allah menjaga diri kita agar tidak menjadi orang yang seperti itu. Wujudkanlah Kecintaan Kepada Saudaramu Karena Allah Mari kita bersama mengurai, apa contoh sederhana yang bisa kita lakukan sehari-hari sebagai bukti mencintai sesuatu bagi saudara kita yang juga kita cintai bagi diri kita… Mengucapkan Salam dan Menjawab Salam Ketika Bertemu “Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Tidak maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian lakukan maka kalian akan saling mencintai: Sebarkanlah salam diantara kalian.” (HR. Muslim)

Berjuang dengan spirit cinta sejati

ini liriknya: tersenyum tetaplah tersenyum tepiskan gundah gelisah hati semua yang dan telah terjadi biar pergi tetaplah tatap harimu dengan asa cinta dan citamu ijinkan semua menjadi indah pada waktunya nanti ingatlah Tuhan telah berfirman ‘Aku bagaikan yang kau sangkakan’ maka yakinlah harapan pasti datang hujan kan reda kemarau tiba hadir pelangi warnai bumi cinta dan cita akan hiasi hari harimu nanti bukankah Dia telah berjanji tiada doa yang tak terijabahi memohonlah dengan sepenuh hati istajib yaa Robbi Sambil dengerin musik, tak ada salahnya sambil baca-baca untuk menambah wawasan nusantara… smoga bermakna :) berjuang dengan spirit cinta sejati Menuju kekuatan cinta Hidup merupakan sebuah perjuangan jika dihadapkan pada sebuah cita-cita yang hendak diwujudkan, sebuah cita-cita yang begitu menghasrat dalam jiwa yang jika tercapai muncul perasaaan bahagia tiada terkira. Harapan dari perjuangan itu sendiri adalah perubahan dari keadaan kehidupan menuju keadaan yang lebih baik dan sempurna. Di dalam perjuangan untuk mengharapkan adanya perubahan, apapun perubahan itu, memang banyak hal yang harus dilalui, berbagai aral dan rintangan datang menghadang. Terkadang bahkan pada awalnya kita berpikir bahwa jalan yang harus kita tempuh untuk mencapai perubahan yang diinginkan adalah jalan yang tidak wajar, mengingat sepertinya perubahan yang kita harapkan adalah hal yang sulit dan begitu mengangkasa untuk digapai. Ada sebuah key, sebuah kata kunci, agar kita tidak pernah berhenti untuk berjuang. Apakah itu … kunci itu adalah adalah kita memiliki kekuatan cinta di dalam hati kita, cinta terhadap apa yang kita perjuangkan,tak peduli apa yg menjadi cita-cita itu. Jangan pernah untuk memandang rendah arti kekuatan cinta, karena kekuatan cinta adalah suatu hal yang dapat memberikan perubahan. Ada satu point yang harus kita ketahui, kekuatan perubahan itu bermula ketika adanya ketukan di dalam hati kita. Ketika hati Kita tergerak, berarti kita sudah ada kesadaran, dan kesadaran itulah yang akan membuat Kita memiliki kekuatan cinta yang akan membuat satu perubahan. Cinta itu begitu kuat, terkadang menembus batas imajinasi, bahkan lebih kuat dari pada maut. Kekuatan cinta memang luar biasa, namun satu hal juga yang harus diketahui, bahwa perubahan itu terkadang bersifat evolutif, begitu lambat. Hanya saja kekuatan cinta yang murni dan ikhlas memang harus melalui proses pembidikan, bahkan terkadang harus menggunakan senapan sepuluh kali F16 agar tepat pada sasaran menembus jantung hati hingga luka. Namun dengan pembidikan yang tepat, kekuata cinta akan berkobar. Cinta juga butuh pengasahan, terkadang harus menggunakan pisau yang diasah sangat tajam yang mampu membuat sisi-sisi hati menjadi luka. Namun, dengan asahan itulah the power of love yang ada akan teruji. Di dalam sebuah proses jatuh bangun adalah hal yang wajar, dan itulah salah satu ujiannya, sanggupkan. Akan ada kesedihan dan deraian air mata yang tidak sedikit, karena memang ketika kita berada dalam proses tersebut, kita akan merasakan sakit yang teramat dalam, dan bisa jadi terbetik dalam hati bahwa perubahan yang diharapkan ibarat sebuah harapan kosong yang berujung pada menyerah dan berhenti dalam perjuangan. But, remember … jangan sekali-kali proses itu membuat kita letih lalu menyerah dan terus-menerus mengafirmasikan bahwa perubahan yang diharapkan adalah sebuah harapan kosong dan impian di kala tertidur, yakin saja melalui proses pengasahan dan linangan air mata, kekuatan cinta yang yang ikhlas akan menjadi nyata dan menjadi daya yang tak mampu dihentikan oleh tsunami sekalipun, dan dengan kekuatan cinta yang telah ada, Kita sanggup memberikan perubahan yang pasti terhadap keadaan yang memang membutuhkan perubahan. Bukankah segala sesuatu akan menjadi indah pada waktunya. Jadi jangan menyerah, jangan menyerah, jangan menyerah. Ujian yang datang hadapi dengan kerelaan, dalam pengertian hadapi itu. Perubahan pasti akan terjadi pada waktu yang tepat. Kekuatan cinta akan membius derita perjuangan. Percayalah padaku, kali ini saja :D , percaya apa? Percayalah bahwa sesuatu yang mungkin untuk diwujudkan secara rasional, hal itu mungkin diwujudkan secara faktual, sehingga layak untuk diperjuangkan, tak ada sesuatu yang mustahil jika sesuatu itu bisa dipikirkan. Miliki respect terhadap apa yang anda pikirkan, cintai sebuah gambaran yang dinginkan dan perjuangkan. Cinta pada Allah menumbuhkan Kekuatan yang luar biasa Ingin kutunjukkan padamu bahwa ada satu cinta yang jika Kita memilikinya akan menjadikan Kita orang yang takkan pernah putus asa, sebuah cinta dengan kekuatan yang luar biasa. Ya, ada satu cinta, cinta yang paling kuat dalam kehidupan dunia ini. Saat Kita tidak memiliki cinta ini, sungguh betapa celaka diri kita, indikasi Kita sudah menyia-nyiakan hidup Kita. Kenapa?? Karena Inilah sebuah cinta yang paling besar. The great of love, satu cinta yang akan memberikan sebuah kekuatan tak terbatas kecuali maut, sebuah kekuatan yang memotivasi para mujahid di medan perang. Cinta ini mampu membius seseorang dari rasa takut mati, rasa takut apapun itu, juga dari rasa sakit, putus asa, sebuah cinta yang tidak akan pernah membawa apapun selain kemenangan, tidak takut apa pun, demi sebuah cinta. Cinta apakah itu? Cinta ini tidak lain dan tidak bukan adalah cinta kepada Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. (QS Al Baqarah:165) Banyak sudah kisah yang teriwayatkan betapa kecintaan pada Allah telah menumbuhkan semangat perjuangan yang hampir-hampir menembus batas imajinasi, dia benar-benar nyata. Satu contoh saja pada awal tahun kedelapan hijriah Rasulullah saw. menyiapkan pasukan tentara untuk memerangi tentara Rum di Muktah. Beliau mengangkat Zaid bin Haritsah menjadi komandan pasukan. Rasululalh saw. bersabda, “Jika Zaid tewas atau cidera, komandan digantikan Ja’far bin Abi Thalib. Sekitainya Ja’far tewas atau cidera pula, dia digantikan Abdullah bin Rawahah. Dan, apabila Abdullah bin Rawahah cidera atau gugur pula, hendaklah kaum muslmin memilih pemimpin/komandan di antara mereka. ” Setelah pasukan sampai di Muktah, yaitu sebuah kota dekat Syam dalam wilayah Yordan, mereka mendapati tentara Rum telah siap menyambut kedatangan mereka dengan kekuatan 100.000 pasukan inti yang terlatih, berpengalaman, dan membawa persenjataan lengkap. Pasukan mereka juga terdiri dari 100 ribu milisi Nasrani Arab dari kabilah-kabilah Lakham, Judzam, Qudha’ah, dan lain-lain. Sementara, tentara kaum muslimin yang dipimpin Zaid bin Haritsah hanya berkekuatan 3000 tentara. Kita bisa bayangkan 100.000 degan perlengkapan perang lengkap dan pasukan terlatih berbanding 3.000 pasukan dengan bekal iman pada Allah dan Rasulnya. Apakah mereka lari? Tidak … Begitu kedua pasukan yang tidak seimbang itu berhadap-hadapanan, pertempuran segera berkobar dengan hebatnya. Zaid bin Haritsah gugur sebagai syuhada ketika dia dan tentaranya sedang maju menyerbu ke tengah-tengah musuh. Melihat Zaid jatuh, Ja’far segera melompat dari punggung kudanya yang kemerah-merahan, lalu dipukulnya kaki kuda itu dengan pedang, agar tidak dapat dimanfaatkan musuh selama-lamanya. Kemudian secepat kilat disambarnya bendera komando Rasulullah dari tangan Zaid, lalu diacungkan tinggi-tinggi sebagai tkita pimpinan kini beralih kepadanya. Dia maju ke tengah-tengah barisan musuh sambil mengibaskan pedang kiri dan kanan memukul rubuh setiap musuh yang mendekat kepadanya. Akhirnya musuh dapat mengepung dan mengeroyoknya. Sementara dia bersenandung menyanyikan sajak nan indah. Wahai … surga nan nikmat sudah mendekat Minuman segar, tercium harum Tetapi engkau Rum … Rum… Menghampiri siksa Di malam gelap gulita, jauh dari keluarga Tugasku … menggempurmu …. Ja’far berputar-putar mengayunkan pedang di tengah-tengah musuh yang mengepungnya. Dia mengamuk menyerang musuh ke kanan dan kiri dengan hebat. Suatu ketika tangan kanannya terkena sabetan musuh sehingga buntung. Maka dipegannya bendera komando dengan tangan kirinya. Tangan kirinya putus pula terkena sabetan pedang musuh. Dia tidak gentar dan putus asa. Dipeluknya bendera komando ke dadanya dengan kedua lengan yang masih utuh. Tetapi, tidak berapa lama kemudian, kedua lengannya tinggal sepertiga saja dibuntung musuh. Secepat kilat Abdullah bin Rawahah merebut bendera komando dari komando Ja’far bin Abi Thalib. Pimpinan kini berada di tangan Abdullah bin Rawahah, sehingga akhirnya dia gugur pula sebagai syuhada’, menyusul kedua sahabatnya yang telah syahid lebih dahulu menemui Dzat yang dicintainya dan atas anugerah surga yang telah dijajikanya. Cinta pada Allah sebagai refleksi iman seorang hamba padaNya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda: أَوْثَقُ عُرَى اْلإِيْمَانِ الْحُبُّ فِي اللهِ وَالْبُغْضُ فِي اللهِ. (رواه الترمذي). “Tali iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR.At Tirmidzi) Dalam riwayat lain, Rasulullah juga bersabda: مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ اْلإِيْمَانَ. (رواه أبو داود والترمذي وقال حديث حسن). “Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka sungguh telah sempurna Imannya.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, ia mengatakan hadits hasan). Jika ada zat di dunia ini yang harus di cintai, yang harus di kagumi, yang harus dipuja dan dipuji maka dia adalah Allah, zat yang telah menciptakan langit dan bumi beserta apa yang ada di antara keduanya. Bukankah ketika seseorang mencintai kecantikan atau ketampanan orang lain, bukankah wujud itu Allah jua yang menciptakan, bukankah ketika seseorang mecintai rumah, sawah ladang dengan aneka buah-buahan Allah juga yang telah menciptakanNya. Bukankah segala yang ada dalam kehidupan ini karena diadakan oleh Allah. Oleh karenanya sudah sepantasnya jika kecintaan pada Allah harus menempati posisi paling tinggi jika harus dibandingkan dengan kecintaan terhadap apa-apa yang telah diwujudkan oleh Allah, yang mengundang hasrat cinta dalam diri manusia. Inilah kecerdasan mencintai (LOVING INTELEGENT) yang sudah seharusnya dimiliki oleh seluruh manusia yang meyakini bahwa segala yang ada berawal dari ketiadaan lalu Allah menjadikannya ada. Oleh karena itulah Allah membuat ancaman: “Katakanlah jika babak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri isteri, keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khuwatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tinggal yang kamu sukai; itu lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya, dan daripada berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya” (QS. At taubah, 24). Menumbuhkan cinta pada Allah cinta senantiasa berkaitan dengan amal. Dan amal sangat tergantung pada keikhlasan hati, disanalah cinta Allah berlabuh. Itu karena Cinta Allah merupakan refleksi dari disiplin keimanan dan kecintaan yang terpuji, bukan kecintaan yang tercela yang menjerumuskan kepada cinta selain Allah. Agar kecintaan seorang hamba pada Allah senantiasa bersemi, cinta itu harus senantiasa dipupuk, karena banyak hal yang dapat menyeret seorang hamba mencintai makhluk melebihi kecintaannya pada Allah. Di bawah ini merupakan hal-hal yang bisa dilakukan untuk pendekatan pada Allah agar cinta tumbuh dan berkembang sekaligus bersemi, hingga membuahkan kekuatan cinta karena Allah. 1. Membaca al-Qur’an dengan merenung dan memahami kandungan maknanya sesuai dengan maksudnya yang benar. Itu tidaklain adalah renungan seorang hamba Allah yang hafal danmampu menjelaskan al-Qur’an agar dipahami maksudnya sesuai dengan kehendak Allah swt. Al-Qur’an merupakan kemuliaan bagi manusia yang tidak bisa ditandingi dengan kemuliaan apapun. Ibnu Sholah mengatakan “Membaca Al-Qur’an merupakan kemuliaan, dengan kemuliaan itu Allah ingin memuliakan manusia di atas mahluk lainnya. Bahkan malaikat pun tidak pernah diberi kemuliaan semacam itu, malah mereka selalu berusaha mendengarkannya dari manusia”. 2. Taqarub kepada Allah swt, melalui ibadah-ibadah sunnah setalah melakukan ibadah-ibadah fardlu. Orang yang menunaikan ibadah-ibadah fardlu dengan sempurna mereka itu adalah yang mencintai Allah. Sementara orang yang menunaikannya kemudian menambahnya dengan ibadah-ibadah sunnah, mereka itu adalah orang yang dicintai Allah. Ibadah-ibadah sunnah untuk mendekatkan diri kepada Allah, diantaranya adalah: shalat-shalat sunnah, puasa-puasa sunnah,sedekah sunnah dan amalan-amalan sunnah dalam Haji dan Umrah. 3. Melanggengkan dzikir kepada Allah dalam segala tingkah laku, melaui lisan, kalbu, amal dan perilaku. Kadsar kecintaan seseorang terhadap Allah tergantung kepada kadar dzikirnya kepadaNya. Dzikir kepada Allah merupakan syiar bagi mereka yang mencintai Allah dan orang yang dicintai Allah. Rasulullah s.a.w. pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah aza wajalla berfirman :”Aku bersama hambaKu,s elama ia mengingatKu dan kedua bibirnya bergerak (untuk berdzikir) kepadaKu”. 4. Cinta kepada Allah melebihi cinta kepada diri sendiri. Memprioritaskan cinta kepada Allah di atas cinta kepada diri sendiri, meskipun dibayang-bayangi oleh hawa nafsu yang selalu mengajak lebih mencintai diri sendiri. Artinya ia rela mencintai Allah meskipun beresiko tidak dicintai oleh mahluk. Inilah derajat para Nabi, diatas itu derajat para Rasul dan diatasnya lagi derajat para rasulul Ulul Azmi, lalu yang paling tinggi adalah derajat Rasulullah Muhammad s.a.w. sebab beliau mampu melawan kehendak dunia seisinya demi cintanya kepada Allah. 5. Kontinuitas musyahadah (menyaksikan) dan ma’rifat (mengenal) Allah s.w.t. Penglihatan kalbunya terarah kepada nama-nama Allah dan sifat-sifatNya. Kesadaran dan penglihatan kalbunya berkelana di taman ma’rifatullah (pengenalan Allah yang paling tinggi). Barang siapa ma’rifat kepada asma-asma Allah, sifat-sifat dan af’al-af’al Allah dengan penyaksian dan kesadaran yang mendalam, niscaya akan dicintai Allah. 6. Menghayati kebaikan, kebesaran dan nikmat Allah lahir dan batin akan mengantarkan kepada cinta hakiki kepadaNya. Tidak ada pemberi nikmat dan kebaikan yang hakiki selain Allah. Oleh sebab itu, tidak ada satu pun kekasih yang hakiki bagi seorang hamba yang mampu melihat dengan mata batinnya, kecuali Allah s.w.t. Sudah menjadi sifat manusia, ia akan mencintai orang baik, lembut dan suka menolongnya dan bahkan tidak mustahil ia akan menjadikannya sebagai kekasih. Siapa yang memberi kita semua nikmat ini? Dengan menghayati kebaikan dan kebesaran Allah secara lahir dan batin, akan mengantarkan kepada rasa cinta yang mendalam kepadaNya. 7. Ketertundukan hati secara total di hadapan Allah, inilah yang disebut dengan khusyu’. Hati yang khusyu’ tidak hanya dalam melakukan sholat tetapi dalam semua aspek kehidupan ini, akan mengantarkan kepada cinta Allah yang hakiki. 8. Menyendiri bersama Allah ketika Dia turun. Kapankan itu? Yaitu saat sepertiga terakhir malam. Di saat itulah Allah s.w.t. turun ke dunia dan di saat itulah saat yang paling berharga bagi seorang hamba untuk mendekatkan diri kepadaNya dengan melaksanakan sholat malam agar mendapatkan cinta Allah. 9. Bergaul dengan orang-orang yang mencintai Allah, maka iapun akan mendapatkan cinta Allah s.w.t. 10. Menjauhi sebab-sebab yang menghalangi komunikasi kalbu dan Al-Khaliq, Allah subhanahu wataala. Saatnya berjuang dengan spirit cinta kepada Allah Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. (QS Al Baqarah:165) Kecintaaan pada Allah menumbuhkan cinta terhadap apa yang dicintainya dan menumbuhkan kebencian terhadap apa yang dibenci oleh Allah. Oleh karena itu meskipun seseorang memiliki saudara yang dia cintai, tetapi saudaranya itu mendurhakati Allah, memusuhi dan menentang Allah, rasa cinta yang secara fitroh ada dalam diri manusia terhadap keluarganyapun akan berubah menjadi kebencian. Inilah kekuatan cinta. “Kamu tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling kasih sayang dengan orang yang menentang Allah dan RasulNya, sekalipun orang orang itu bapak-bapak, anak-anak sauadara-saudara ataupun saudara keluarga mereka.” (Al-Mujadalah: 22) demikian juga ketika kita menghasratkan sesuatu yang begitu kita ingin namun hal itu tidak diridloi oleh Allah, maka kekuatan cinta akan mengalihkan perasaan itu, dan kita akan mengurungkan niat untuk mewujudkan apa yagn kita senangi itu. Bukankah boleh jadi kita mencintai sesuatu yang dibenci Allah dan sebaliknya? Inilah sebuah kenyataan tentang cinta bahwa kita harus memberikan kecintaan dan kesetiaan kita hanya kepada Allah semata. Kita harus mencintai terhadap sesuatu yang dicintai Allah, membenci terhadap segala yang dibenci Allah, ridla kepada apa yang diridlai Allah, tidak ridla kepada yang tidak diridlai Allah, memerintahkan kepada apa yang diperintahkan Allah, mencegah segala yang dicegah Allah, memberi kepada orang yang Allah cintai untuk memberikan dan tidak memberikan kepada orang yang Allah tidak suka jika ia diberi. Oleh karena itu hedaklah sebuah cita-cita yang hendak kita wujudkan dalam hidup ini tidak berseberangan terhadap apa apa yang telah diturunkan kepada Allah. Bagaimana mungkin kita ingin menjadikan Allah sebagai spirit dalam perjuangan hidup kita kalau yang kita perjuangkan sendiri tidak dicintai oleh Allah, ironiskan? InsyaAllah jika sudah terbentuk spirit perjuangan yang didasarkan cinta pada Allah, maka tidak ada satu kekuatan yang mampu melumpuhkannya, meskipun terkadang harus terhenti untuk memikirkan strategi yang lebih taktis lagi dalam memperjuangkannya. satu hal lagi, bahwa perjuangan yang dilandasi oleh cinta pada Allah yang memiliki konsekuensi logis menjadikan Islam sebagai landasan perjuangannya, maka hal itu akan bernilai ibadah, siapa hamba yang tidak mau beribadah kepadaNya? inilah yang akan mewujudkan kontinuitas dalam berjuang, yaitu semuanya dilakukan karena cinta pada Allah, untuk kemudliaan dan keagungan namaNya, bukankah diri ini hanyalah bagian dariNya, mengapa harus egois dengan melupakan namaNya saat meraih dan berjuang menggapai angan dan cita-cita? terakhir, sebuah petikan “jadikanlah hidup ini menjadi lebih bermakna, dengan menjadikan cinta, untuk Allah semata” artinya: cinta kepada selain Allah hanyalah derivasi dari cinta kepada Allah. So, let’s strugle, work and pray. kata kuncil: kata kata mengharapkan seseorang, gambar sakit hati, gambar orang putus cinta, kata kata benci sama pacar, gambar kata kata putus cinta, arti mimpi putus cinta, kata kata perjuangan cinta, kata kata suka sama seseorang, gambar kata kata islam, kata kata lagi senang, kata kata melupakan seseorang, kata kata cinta pendek, kata-kata semangat untuk orang sakit, ayat untuk sahabat sejati, kata kata dingin,

Izinkan Aku Bahagia Bersamanya

love Senyumku Dakwahku - Sebuah konsep kebahagian yang hakiki; yaitu tujuan hidup kita di dunia ini, baik itu dalam belajar, bekerja, ataupun berusaha, hanya satu saja “mendapatkan ridho Allah SWT”. Akhina & ukhtyma fillah... kau tawarkan rangkaian pesona indah lisanmu tuk meluluhkan hatiku... Perbuatan tingkah lakumu menggambarkan sikap isi hatimu, seakan tak ada sedikit cacat dalam pengetahuan dan pengamalanmu.... Disini aku hanya seorang akhwat menanti janji tuhan akan hadirnya penyempurna dalam hidupku, penyempurna sebagian agamaku.... “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (Ar Ruum : 21) Akhina & ukhtima fillah... Siapa aku ini...??? Aku hanya seorang yang mengaku akhwat tak tau diri, yang mempunyai rasa yang begitu besar pada seorang peria yang berjiwa bersih dan 'alim sesempurna dirimu.... Padahal aku hanya seorang Wanita Kotor.... yang ucapan dan prilaku dalam keseharianku tak ada kecocokan antra keduanya! Semua ku serahkan kepada Allah ta’ala semata. ukhty, Tentunya antum pernah mendengar hadits yang tersohor ini. Bahwa wanita dinikahi kerana empat perkara: kecantikannya, hartanya, keturunannya, atau diennya. Maka pilihlah yang terakhir kerana ia akan membawa lelaki kepada kebahagiaan yang hakiki. ukhty fillah... Salahka aku ini...??? Memiliki segumpal rasa dalam sekeping hati yang teramat tulus mencintaimu dan ingin ku Bahagia Bersamamu.... Mulai ku Berharap.... Entah dengan angan yang tak pasti, dan dengan khayal yang tinggi... Yaaaa, mungkin... hanyalah sebuah mungkin............. Tapi... Yang ku yakini saat ini adalah rasah hati yang akan selalu tulus mencintimu sampai takdir menepi dalam ikatan Suci hingga akhirnya aku Bahagia Bersamamu . . . ukhti fillah, Mari kita sucikan hati dengan taubat nasuha. Pesan saya, siapkan diri antum menjadi mujahid. Insya Allah, akan ada ratusan yang akan menyambut uluran tangan antum untuk berjihad bersama-sama.

Ya Allah, ampunilah segala dosa-dosaku.. Jadikanlah diriku sebaik-baik hamba yg Engkau ridhoi

Indahnya hidup dengan celupan iman. Saat itulah terasa bahwa dunia bukan segala-galanya. Ada yang jauh lebih besar dari yang ada di depan mata. Semuanya teramat kecil dibanding dengan balasan dan siksa Allah swt. Menyadari bahwa dosa diri tak akan terpikul di pundak orang lain Siapa pun kita, jangan pernah berpikir bahwa dosa-dosa yang telah dilakukan akan terpikul di pundak orang lain. Siapa pun. Pemimpinkah, tokoh yang punya banyak pengikutkah, orang kayakah. Semua kebaikan dan keburukan akan kembali ke pelakunya. Maha Benar Allah dengan firman-Nya dalam surah Al-An’am ayat 164. “…Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan.” Lalu, pernahkah kita menghitung-hitung dosa yang telah kita lakukan. Seberapa banyak dan besar dosa-dosa itu. Jangan-jangan, hitungannya tak beda dengan jumlah nikmat Allah yang kita terima. Atau bahkan, jauh lebih banyak lagi. Masihkah kita merasa aman dengan mutu diri seperti itu. Belumkah tersadar kalau tak seorang pun mampu menjamin bahwa esok kita belum berpisah dengan dunia. Belumkah tersadar kalau tak seorang pun bisa yakin bahwa esok ia masih bisa beramal. Belumkah tersadar kalau kelak masing-masing kita sibuk mempertanggungjawabkan apa yang telah kita lakukan. Menyadari bahwa diri teramat hina di hadapan Yang Maha Agung Di antara keindahan iman adalah anugerah pemahaman bahwa kita begitu hina di hadapan Allah swt. Saat itulah, seorang hamba menemukan jati diri yang sebenarnya. Ia datang ke dunia ini tanpa membawa apa-apa. Dan akan kembali dengan selembar kain putih. Itu pun karena jasa baik orang lain. Apa yang kita dapatkan pun tak lebih dari anugerah Allah yang tersalur lewat lingkungan. Kita pandai karena orang tua menyekolah kita. Seperi itulah sunnatullah yang menjadi kelaziman bagi setiap orang tua. Kekayaan yang kita peroleh bisa berasal dari warisan orang tua atau karena berkah lingkungan yang lagi-lagi Allah titipkan buat kita. Kita begitu faqir di hadapan Allah swt. Seperti itulah Allah nyatakan dalam surah Faathir ayat 15 sampai 17, “Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia musnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.” Menyadari bahwa surga tak akan termasuki hanya dengan amal yang sedikit Mungkin, pernah terangan-angan dalam benak kita bahwa sudah menjadi kemestian kalau Allah swt. akan memasukkan kita kedalam surga. Pikiran itu mengalir lantaran merasa diri telah begitu banyak beramal. Siang malam, tak henti-hentinya kita menunaikan ibadah. “Pasti, pasti saya akan masuk surga,” begitulah keyakinan diri itu muncul karena melihat amal diri sudah lebih dari cukup. Namun, ketika perbandingan nilai dilayangkan jauh ke generasi sahabat Rasul, kita akan melihat pemandangan lain. Bahwa, para generasi sekaliber sahabat pun tidak pernah aman kalau mereka pasti masuk surga. Dan seperti itulah dasar pijakan mereka ketika ada order-order baru yang diperintahkan Rasulullah. Begitulah ketika turun perintah hijrah. Mereka menatap segala bayang-bayang suram soal sanak keluarga yang ditinggal, harta yang pasti akan disita, dengan satu harapan: Allah pasti akan memberikan balasan yang terbaik. Dan itu adalah pilihan yang tak boleh disia-siakan. Begitu pun ketika secara tidak disengaja, Allah mempertemukan mereka dengan pasukan yang tiga kali lebih banyak dalam daerah yang bernama Badar. Dan taruhan saat itu bukan hal sepele: nyawa. Lagi-lagi, semua itu mereka tempuh demi menyongsong investasi besar, meraih surga. Begitulah Allah menggambarkan mereka dalam surah Albaqarah ayat 214. “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” Menyadari bahwa azab Allah teramat pedih Apa yang bisa kita bayangkan ketika suatu ketika semua manusia berkumpul dalam tempat luas yang tak seorang pun punya hak istimewa kecuali dengan izin Allah. Jangankan hak istimewa, pakaian pun tak ada. Yang jelas dalam benak manusia saat itu cuma pada dua pilihan: surga atau neraka. Di dua tempat itulah pilihan akhir nasib seorang anak manusia. “Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari isteri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS. 80: 34-37) Mulailah bayang-bayang pedihnya siksa neraka tergambar jelas. Kematian di dunia cuma sekali. Sementara, di neraka orang tidak pernah mati. Selamanya merasakan pedihnya siksa. Terus, dan selamanya. Seperti apa siksa neraka, Rasulullah saw. pernah menggambarkan sebuah contoh siksa yang paling ringan. “Sesungguhnya seringan-ringan siksa penghuni neraka pada hari kiamat ialah seseorang yang di bawah kedua tumitnya diletakkan dua bara api yang dapat mendidihkan otaknya. Sedangkan ia berpendapat bahwa tidak ada seorang pun yang lebih berat siksaannya daripada itu, padahal itu adalah siksaan yang paling ringan bagi penghuni neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim) Belum saatnyakah kita menangis di hadapan Allah. Atau jangan-jangan, hati kita sudah teramat keras untuk tersentuh dengan kekuasaan Allah yang teramat jelas di hadapan kita. Imam Ghazali pernah memberi nasihat, jika seorang hamba Allah tidak lagi mudah menangis karena takut dengan kekuasaan Allah, justru menangislah karena ketidakmampuan itu.

aku mencintaimu kerana agama yang ada padamu

Assalamualaikum "Aku mencintaimu kerana agama yang ada padamu, jika kau hilangkan agama dalam dirimu..hilanglah cintaku padamu" (Imam Nawawi) Rasulullah SAW bersabda : “Dinikahi perempuan itu kerana 4 perkara: Pertama, kerana hartanya. Kedua, kerana keturunannya. Ketiga, kerana kecantikannya. Keempat, kerana agamanya. Maka yang lebih utama adalah perempuan yang beragama, pasti engkau akan beruntung.” (HR. Bukhari Muslim) Kerana agama, aku memilih dikau. Kerana agama, bukan rupa, bukan harta..tetapi agama. Saya pernah terbaca, hadith tersebut bukan sahaja kita gunakan sebagai kriteria pemilihan isteri bahkan juga seorang suami. Meskipun tak dinafikan harta itu penting, paras rupa itu penting, keturunan itu penting..tetapi, syarat paling utama ialah ketaatan nya dalam menjalankan perintah Allah s.w.t. Jika itu menjadi dasar yang paling penting, insyaAllah semuanya akan menjadi mudah seperti dimurahkan rezeki sama ada dari sudut harta mahupun anak bahkan menjadi penyejuk mata serta sedap memandang begi pasangan hidup masing-masing. Bukankah itu lebih baik? Saya pernah menonton satu slot di tv al hijrah iaitu Madrasah Syariah tentang kriteria pemilihan pasangan hidup. Ustaz tu kata, kalau nak diikutkan statistik..mereka yang bernikah disebabkan agama..penceraian yang berlaku adalah lebih kecil berbanding mereka yang bernikah atas dasar nafsu semata-mata. Bahkan daripada penceraian tersebut pula adalah disebabkan kehadiran orang ketiga dan bukan atas dasar pasangan itu sendiri contohnya masuk campur ahli keluarga dan lain-lain. Memang dalam Islam, penceraian itu adalah halal dan bercerai juga adalah salah satu jalan terbaik sekiranya sudah tiada persefahaman dalam hidup. Namun, ia adalah jalan terakhir. Setiap orang yang bernikah pasti ada impian untuk bersama-sama sampai bila-bila dan yang paling penting, cinta sampai ke syurga. Betul kan? Sumai perlu menjadi imam..bukan sahaja di dalam solat, bahkan di luar solat. Imam juga bermaksud ketua, suami jadi tempat rujuk dan dia juga perlu pastikan isteri dan keluarganya tetap pada jalan Allah. Jika tiada ilmu agama, mana mungkin keluarga sakinah ini akan wujud? Isteri juga begitu, menjadi makmum. Perlu mengikut apa yang disuruh oleh suami selagi mana tidak bercanggah dengan agama. Jika tiada agama, mana mungkin ia akan berlaku? Jika lelaki seorang yang kuat, dia boleh memilih wanita yang kurang agamanya untuk dijadikan isteri. Namun, janji Allah itu pasti. Jika inginkan pasangan beriman, kita mesti jadi orang yang beriman. Surah An-Nur ayat 26 yang bermaksud : “Perempuan yang jahat untuk lelaki yang jahat dan lelaki yang jahat untuk perempuan yang jahat, perempuan yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk perempuan yang baik.” Dalam kriteria pemilihan pasangan hidup, pastikan agama adalah yang paling penting malah melebihi syarat-syarat yang lain. InsyaAllah akan selamat hidup kita ♥ "Kerana agama, aku jatuh cinta"

(SIAPA MAHASISWA ITU???)

mahasiswa sebagai penuntut ilmu. mahasiswa sebagai organisator. mahasiswa sebagai da’i. mahasiswa sebagai seorang pemimpin. mahasiswa sebagai generasi penerus. mahasiswa sebagai penyambung lidah rakyat. mahasiswa sebagai santri. mahasiswa sebagai pekerja. mahasiswa sebagai…….??? (masih ada begitu banyak jawaban yang seharusnya mampu di tuliskan oleh seseorang yang menyanang gelar “Mahasiswa”) >>>>>> dari dunia ini…aku rasa…sudah ku temukan semua jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. aku katakan..ALLAH begitu menyayangi ku…Ia tahu apa-apa yang tersimpan atau bahkan hanya terlitas di hati…Ia lah yang menjawab semua pertanyaanku dengan caranya…Ia lah yang mengabulkan segala harapan ku…Ia lah yang menghadirkan kebahagiaan dalam hari-hari ku…dan Ia pun lah yang telah menyeka setiap tetesan air mata yang pernah hadir. dan di saat ini…aku berharap ….Aku ingin segera lulus dari dunia ini.. dunia yang telah banyak memberiku kesempatan untuk belajar… klo pun aku akan memasuki dunia ini lagi..mungkin tidak di kampus yang sama…terlalu banyak kenangan dan catatan yang telah tertulis di kampus ini… ada kekecewaan yang terkadang memasak untuk menyeruak…tapi terus aku tahan dengan kebahagiaan2 yang pernah aku dapat…dan tak jarang semua itu membuatku sesak… Dan itu mungkin karena ambisi atau idealisme ku…yang (terkadang) sulit untuk aku kendalikan. melihat yang tak seharusnya…melihat amanah-amanah yang tak mampu ku tunaikan dengan optimal…melihat orang-orang hanya mau di mengerti dan di perhatikan..tanpa pernah mencoba untuk melakukan yang sebaliknya….melihat orang-orang yang tampak tenang-tenang saja…padahal sangat tahu jelas…klo amanahnya tak mampu ia tunaikan dengan optimal…. aku tahu kita manusia bukan lah malaikat..manusia tempatnya segala salah dan kekurangan bersemayam…tapi yakinlah…mata manusia pun bisa melihat proses…mata manusia pun bisa melihat usaha…terlebih Sang Maha Melihat….Ia Maha Tahu…atas apa2 yang kamu usahakan… kejengahan itu lah…yang membuat ingin segera lulus dari dunia ini… dunia yang dari dalam lubuk hatiku …aku sukai… ya inilah aku… aku lah Mahasiswa (dengan sifat manusia yang aku miliki…)

Aku Mencintaimu Karena Allah

Ajari aku cinta untuk bersabar.. Untuk menemukan makmum yang benar..
Untuk menjaga segala kemuslimahanmu.. Mengangkat derajat keimananku..
Serta membawaku dalam Indahnya agama Allah.. Ajari aku cinta untuk bertahan..
Pada kebaikan.. Pada keistiqomahan.. Pada Indahnya sendiri tanpa sentuhan haram.. Pada keindahan Cinta yang selalu terpendam..

Ajari aku cinta..

Seperti Para makhluk tuhan yang selalu berdzikir..

Seperti Hamba-hamba Allah yang selalu berfikir..

Di jauhkan dari manusia-manisa kafir..

Dan selalu ada dalam kerendahan hati tanpa kikir..

Ajari aku Cinta..

Aku ingin memilikimu karena TuhanMu, Allah..

Aku ingin menjadi pendampingmu karena Ajaran TuhanMu, Allah..

Aku ingin mencintai dan melengkapai kehidupanku juga hanya ada di jalan TuhanMu, Allah..

Demi Cintaku padamu, Karena Allah..

Hanya Karena TuhanMu, Allah..

Jadilah ma'mum yang sempurna..

Yang selalu mencari cinta di jalan TuhanMu, Allah..

Untukmu Yang akan menjadi ma'mumku..

Biarkan CINTA itu tetap di HATIMU

Mengapa engkau terus menyimpan beban dalam dirimu jika engkau mempunyai Allah sebagai tempat mengadu?
Mengapa engkau takut semua orang membencimu padahal engkau mempunyai Allah yang mengerti dirimu?
Mengapa engkau mengisi hatimu dengan sedih dan penderitaan padahal engkau memiliki Allah yang dapat mengisinya dengan kebahagiaan abadi?
Mengapa engkau memilih nyaman diatas ketidaktenangan padahal ada cinta murniNya yang berbicara tentang kedamaian ?

Bukalah hatimu, biarkan Allah membersihkan semua lukamu,
dan memelukmu dengan cintaNya yang terbesar
karena cuma Allah,yang bisa memberikan itu.

Berdoalah kepada Allah karena Dia mendengarkan semua doa-doamu,
percaya kepada-Nya saja dan bukan kepada yang lain yang menipumu,
lakukanlah apa yang Dia katakan karena Dia adalah penuntunmu,
cintai Allah sungguh-sungguh dan jangan menipuNya.

Jika engkau dalam pertarungan dan tanpa senjata,
maka biarlah CintaNya yang menjadi pedangmu,
Jika engkau terluka dalam pertarungan itu, maka biarlah cintaNya menutup luka dan menghentikan pendarahanmu

Jika engkau merasa kedinginan maka biarlah cintaNya yang menghangatkanmu,
Jika engkau tersandung dan jatuh maka biarlah cintaNya yang menangkapmu
Jika engkau tidak memiliki makanan untuk dimakan lagi maka biarlah kasihNya yang akan mengenyangkanmu
Jika engkau mulai susah bernafas,maka biarlah cintaNya mengisi paru-paru dan menjadi udaramu
Jika engkau tidak mempunyai air untuk minum maka biarlah cintaNya menjadi air penyejuk dahagamu.

ketika engkau tersesat dalam hujan, maka biarlah cintaNya yang menjadi naunganmu
Ketika engkau tersesat dalam gelap, maka biarlah cintaNya menjadi cahaya penuntunmu.
Bahkan ketika engkau tidak dapat melihat maka biarlah cintaNya yang akan menjadi pandanganmu

Ketika engkau salah dalam berargumen. Maka biarlah cintaNya menunjukkan kebenaran
Ketika tidak ada lagi yang mengerti tentang dirimu, maka carilah Allah biarkan cintaNya memahamimu
Ketika tidak ada lagi yang mendengarkanmu, maka biarlah cintaNya yang menjadi pendengar setiamu
Ketika tidak ada lagi yang mempercayaimu maka biarlah cintaNya dikirim untukmu tuk jadi kepercayaan dirimu

Ketika engkau ragu tidak ada lagi yang melindungimu, biarkanlah cintaNya yang menjadi pertahananmu
Ketika engkau merasa tidak ada yang peduli denganmu, maka biarkanlah cintaNya yang memperhatikanmu
Ketika seseorang mengatakanmu bodoh, maka biarkanlah cintaNya yang membuatmu bijaksana
Ketika seseorang meninggalkanmu, maka biarkanlah cintaNya menunjukkan jalanmu

Karena ketika engkau lemah, maka biarkanlah cintaNya yang membuatmu kuat
Karena ketika engkau susah tersenyum, maka biarkanlah cintaNya membuat hatimu tertawa
Ketika engkau tersesat maka biarkanlah cintaNya yang menjadi jalanmu
Ketika engkau susah untuk berbicara maka biarkanlah cintaNya yang menjadi perkataanmu

Bila engkau takut maka biarlah cintaNya merengkuhmu dalam lindunganNya
Bila engkau kecewa maka biarlah cintaNya menjadi jalan pembebasanmu
Bila engkau disakiti maka biarlah cintaNya menyembuhkan sakitmu
Bila engkau mencapai puncak perjalananmu
malaikat langit akan datang para akhirnya untuk menyambutmu .
maka pergilah

Berjalanlah menuju kemegahan surgaNya,
Jangan pergi dihari itu tanpa cintaNya
Engkau tidak akan pernah goyah selama engkau memakai pakaian Tauhid
Jangan biarkan iblis menipu hatimu,
Jangan takut karena cinta Allah akan menaklukkan itu selamanya

Tunggu dan percaya pada cinta Allah
Itu yang terbaik yang bisa engkau miliki,
Tolong jangan menangis lagi,

Dan di dalam hatimu …Biarkan cintaNya itu tetap !!

Ya Allah Jika Ia Yang Terbaik Buatku

Ya Allah Jika Ia Yang Terbaik Buatku..
Izin aku menjauhinya demi kesuciannya..
menjaganya selalu dengan doa…
untuk tak melihatnya dengan rasa nafsu belaka..

Ya Allah Jika Ia Yang Terbaik Buatku..
semoga dia adalah wanita Soleha..
Berbakti kepada ayah bundanya..
selalu menangis karenamu Ya Robb..
dan pandai menjaga diri dengan do’a-do’a..

Ya Allah Jika Ia Yang Terbaik Buatku!
baikkanlah aku seperti kebaikannya…
sabarkanlah aku seperti kesabaran yang dimilikinya..
teguhkanlah niatku seperti niatnya Karena-Mu..
dan biarkan semua mengalir sederhana dan apa adanya..

Ya Allah Jika Ia Yang Terbaik Buatku!
pilihkan tempat yang tepat untuk kami Tuhan..
jauhkan kebodohan dari fikiran kami..
biarkan rasa ini terus ada walaupun dalam diam..
dan Jodohkanlah ia denganku atas Kehendak-Mu untuk bersujud pada-Mu

***
semua hal yang terlihat sangat indah di mata kita sekarang, belum tentu ialah yang tebaik dalam pandangan Allah. semakin seseorang itu menampakkan kesuksesan dan keindahan hanya di muka dunia, ia tak layaknya seorang yang hanya membutuhkan Pujian belaka. Bagaimana Engkau, itulah Jodoh yang akan Allah berikan untukmu. puisi untuk sahabatku Akhi Rahman, semoga berkenan meskipun saya ngerasanya agak berantakan, bukan agak si.. cuma iya berantakan banget :D

Semoga punya seseorang yang Baik dalam Pandangan Allah, bukan dalam pandangan kita :)

takan pernah tergantikan

Masih teringat dengan jelas saat tangan itu membelaiku
Terasa terbang seluruh beban yang menghimpit ini
Rasanya nyaman, aman dan tentram dalam dekapmu
Yang melukiskan seribu cinta tak terkatakan

Dicintamu
Kudapatkan apa yang kusebut kemurnian dan ketulusan yang sejati
Yang begitu mudahnya dipermainkan oleh orang lain
Yang mengira itu adalah cinta sejati

Disenyummu
Kutemukan kebahagiaan sejati yang lahir dari hati yang iklas
Yang kadang hanya dijadikan topeng oleh orang lain
Dengan tujuan menunjukan keramahan palsu

Dimarahmu
Kudapatkan yang dinamakan pengajaran untuk menunjukkan benar dari salah
Yang kadang diputar balikan oleh orang lain
Hanya untuk menutupi kesalahan diri dan melepaskan tanggungjawab

Jika membandingkanmu dengan orang lain
Seperti membandingkan batu berlian dengan batu kali
Seperti membandingkan emas murni dengan imitasi
Seperti membandingkan ketulusan dan kemunafikan

Memang sosokmu tak akan pernah tergantikan
Tak akan pernah terbandingkan
Tak akan pernah dapat dibandingkan dengan apapun
Karena dirimulah pribadi yang membuat aku seperti ini
Dengan cintamu, belaianmu, amarahmu, pengorbananmu
Kau membentuk pribadi yang lemah menjadi tegar
Pribadi yang merepotkan menjadi mandiri

Tak pernah bisa kubayangkan jika aku tanpamu dan tak pernah bersamamu
Akan seperti apa hidupku nantinya

Dan kau adalah malaikat luar biasa yang diberikan Tuhan untukku
Yang dengan lembut aku memanggilmu…… Ibu

JAGA MATA MU

Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Bismillahirrahmanirrahim

Pandangan mata yang diumbar dan tidak dikendalikan akan merusak hati kita.

Ia ibarat panah beracun yang dilesakkan Iblis ke arah hati kita. Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits Nabi dari Anas bin Malik, bahwasanya Rasulullah saw bersabda,

"Pandangan mata adalah panah beracun yang dilesakkan oleh Iblis. Barangsiapa memejamkan matanya (dari yang haram) karena Allah, maka Allah akan memberikan pada hatinya lezatnya iman, yang akan ia dapat sampai ia berjumpa dengan-Nya."


Pandangan mata yang diumbar dan tidak dikendalikan juga akan menyibukkan hati kita, sehingga kita menjadi lupa pada berbagai kebaikan dan amal shalih. Ketika itulah kita bisa terjebak untuk menuruti dorongan hawa nafsu dan terlena dalam kelalaian tersebut.

"Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingati kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas." (QS Al-Kahfi: 28)


Karena sedemikian berbahayanya pandangan mata jika diumbar dan tidak dikendalikan, Allah menyeru kepada orang-orang yang beriman, baik laki-laki maupun perempuan, agar menundukkan pandangan mereka dari hal-hal yang terlarang. Dalam QS An-Nuur: 30-31, Allah berfirman,

"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: 'Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat.' Katakanlah kepada wanita yang beriman: 'Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya. Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya ...."

.......................SEDETIK RASA.........................


Manusia itu..dikelilingi dengan pelbagai rasa..hari-hari yang dilalui tak semestinya sentiasa cerah..akan ada mendung..akan ada gelapnya..hari ini kita gembira..bahagia..namun..belum tentu hari esok masih sama..itulah yang dinamakan roda kehidupan..semua rasa akan datang pada kita..yang mebezakannya adalah waktu..tempat..dan keadaan kita untuk menerimanya..

kehidupan itu ada 1000 pelbagai ragam...kita takkan pernah menjangka apa yang bakal terjadi..kerana itu luar dari kekuasaan kita..kadang kala kita akan merasakan seperti tersungkur sendirian..tiada yang membantu..kita merasakan dihimpit dengan keinginan dan keperluan kita..kita rasa rimas dengan permintaan orang lain yang bermacam-macam dan tak pernah henti...tetapi..itulah kehidupan..kehidupan yang relah diberikan pada kita untuk kita mengaturkannya semampu kita dengan menggunakan akal fikiran yang telah dianugerahkan pada kita..

Sesungguhnya Allah itu Maha Adil..Dia Maha Mengetahui segala setiap sesuatu yang berlaku pada kita..malah Allah Maha Penyayang sehinggakn setiap yang diduga kepada kita pastidalam kemampuan kita...tak lebih dari itu..Allah...Allah...

Sangat menyedihkan..kita kini sering lupa pada Dia ketika kita senang..berada jauh dengan Dia apabila kita gembira..dan sebaliknya..apabila berada dalam kesempitan..sedih..buntu..bermasalah..hati kita sangat dekat denganNYA..bahkan sangat rapuh dihadapanNYA...

Kenapa begitu..?? Dia sentiasa ada dengan kita...malah tak pernah lepas pandanganNYA pada kita hatta sesaat...kita pula..?? sentiasa berpaling dari terus mengingatiNYA..kenapa..??...Allah..Allah...

Ini hanyalah sedetik rasa hati yang datang dari hati ketika berfikir melihat manusia dan diri sendiri hari ini...T_T

” Wahai Pemuda Kembalilah kejalan yang Lurus ”

Assalamu’alaikum. Warahmatullohi Wabarakatuh
Segala kebenaran dan perlindungan hanya patut kita sembah hanya kepada Alloh Rabbul Izzati yang mana telah memberikan kita kehidupan di dunia ini. Oleh sebab itu wahai para Pemuda dambaan Islam cintailah Alloh saja serta kedua Orang tua kita serta janganlah kalian mengikuti langkah-langkah Perilaku juga jalan-jalan Syaithan dan orang Kafir yang dilaknat Alloh, maka kalau kalian mengakui bahwa kalian sebagai muslim pelajarilah ilmu Islam ini dengan baik karena tidak ada kemuliaan selain mempelajari Syari’at Alloh yang mulia yang terdapat dari dalam Al-Qur’an yang mulia sebagaimana Rasululloh Shallallahu’ Alaihi Wa Sallam bersabda: ” Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an ”. (Al-Hadist). Maka dari itu wahai Pemuda Islam janganlah kalian berpaling dalam mencari hakikat kebenaran yang hakiki sebab kebenaran yang hakiki dan sejati hanyalah kalian wahai para Pemuda Islam harusnya pelajari Al-Qur’an dan menghayati makna yang terkandung di dalamnya.
Sedangkan Al-Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah Rahimahulloh berkata: ” Hayatilah Al-Qur’an jika anda menginginkan petunjuk, karena ilmu itu ada di balik penghayatan Al-Qur’an. (lihat dan bacalah Buku Indahnya Hidup bersama Al-Qur’an, Karya: Syaikh Shalih Al-Fauzan Hal. 53, Terbitan: Pustaka Al-Sofwa, Jakarta juga Buku Kedudukan Sunnah Rasulullah Shallallahu’ Alaihi Wa Sallam dalam Islam, Karya: Syaikh Nasiruddin Al-Albani, Terbitan: Kanzul ’Ilmi, Bandung serta Buku bagus Terbitan: Darul Falah, Jakarta tentang, Pelaksanaan WASIAT berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah, Karya: Syaikh Shalih bin Abdurrahman Al-Athram). Oleh karena itu wahai pemuda dambaan Islam pelajarilah dan perdalamlah Al-Qur’an dan As-Sunnah Rasul-Nya Muhammad Ibnu Abdillah Shallallahu’ Alaihi Wa Sallam karena Alloh telah memberikan kepada kita melalui Rasul-Nya Shallallahu’ Alaihi Wa Sallam yang mulia dengan Al-Qur’an dan As-Sunnahnya yang dijamin akan kebenaran didalamnya. Ingatlah akan sabda Nabi Shallallahu’ Alaihi Wa Sallam beliau bersabda: “Menuntut ilmu agama ini adalah wajib atas setiap Muslim (pria maupun wanita).” (HR. Ibnu Majah & Baihaqi). Jadi wahai para Ayah dan Ibu janganlah engkau tidak membolehkan anak kalian kesekolah/madrasah serta universitas yang Islami maka kami himbau kepada para orang tua agar didiklah anak-anak kalian untuk perdalami ilmu agama islam ini dengan baik melalui lembaga tersebut dan melalui para Ulama yang konsisten terhadap Islam juga bacaan buku Islam yang bermutu yang berlandaskan kepada pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah itulah pedoman kita.
Dan ingatlah wahai para Orang tua jadikanlah anak-anak kalian sejarah yang membela agamanya dan melindungi agamanya dari berbagai fitnah dan budaya Syaithan dan orang Kafir yang dilaknat. Maka jadikanlah anak-anak kalian sebagai pengantar kalian keSyurga agar terhindar dari api neraka yang panas. (Lihatlah dan pelajarilah Buku Jagalah dirimu dan keluargamu dari Api Neraka, Karya: Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, Terbitan: Cahaya Tauhid Press, serta Buku Anak Muda nyalakan semangatmu!, Karya: Syaikh DR. Raghib As-Sirjani, Terbitan: Samudera).
Maka oleh karena itu marilah kita pelajari islam ini dengan sungguh-sungguh janganlah kalian berkiblat kepada Syaithan dan Orang Kafir serta Negara Kafir karena Alloh sangat murka apabila kita berpaling terhadap-Nya. Dan inilah sebagian contoh penyimpangan yang dilakukan oleh para Pemuda-pemudi:
1). Berkhayal/Zina Hati.
Ingatan yang terus menerus, rasa rindu, dsb: menyebabkan pikiran dan perasaan disibukkan dengan urusan pacar (duniawi) akibatnya lupa untuk berdzikir pada Alloh Azza wa Jalla Rabb semesta alam. Rasululloh Shallallahu’ Alaihi Wa Sallam bersabda: “ Telah tertulis atas anak Adan nasibnya dari hal zina. Akan bertemu dalam hidupnya, tidak dapat tidak. Zina dua mata adalah melihat, zina dua tangan adalah menyentuh, zina dua kaki adalah berjalan, zinanya hati adalah menginginkan dan berangan-angan dan kemaluan membenarkan semua itu atau mendustakan “. (HR. Muslim dari Abu Hurairah dengan Sanad Shahih).

Orang-orang Yang Menyesatkan Manusia di Masa Kini


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam sebuah hadits:
“Masa saling berdekatan, ilmu berkurang, kepelitan tersebar, berbagai fitnah muncul, dan banyak kekacauan.” Mereka bertanya: ”wahai Rasulullah, apakah kekacauan itu?’ Beliau menjawab: “pembunuhan demi pembunuhan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu)
Disini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberitakan tentang sebuah masa yang sangat buruk. Di mana ilmu berkurang, kepelitan tersebar, serta muncul berbagai fitnah, dan kekecauan. Masa kita ini adalah saat yang tepat untuk kita memahami hadits diatas.
Di zaman ini, ilmu telah sedemikian berkurang, sehingga sangat langka untuk kita temui di tengah masyarakat muslimin, seorang yang bisa disebut sebagai ulama. Kondisi ini semakin diperparah dengan kemunculan berbagai fitnah dan kekacauan di tengah-tengah mereka.
Termasuk yang perlu kita waspadai di masa ini dari sekian fitnah dan keributan yang terjadi adalah para tokoh penyesat umat.
Di dalam hadits Tsauban radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Hanya saja yang aku khawatirkan atas umatku adalah para pemimpin (baca: tokoh) yang menyesatkan.” (HR. Ahmad dan Ad-Darimi dengan sanad yang shahih sesuai dengan syarat Al Imam Muslim, sebagaimana yang dikatakan oleh syaikh Al Albani rahimahullah dalam As-Shahihah 4/110)
Dalam hadits diatas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menggunakan kata ‘hanya saja’ menunjukkan bahwa kekhawatiran beliau terhadap para pemimpin (baca:tokoh) yang menyesatkan sedemikian kuat. Karena mereka adalah bahaya laten bagi kaum muslimin. Mereka sangat mampu untuk menyesat umat ini dari jalan Allah.
Allah berfirman mengenai orang-orang yang binasa:
“Dan mereka berkata: “Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah menta’ati para pemimpin dan pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).” (Al-Ahzab: 67)
Maka kita perlu berhati-hati dari bahaya laten para tokoh yang menyesatkan. Mereka memiliki lisan yang mampu untuk menyesatkan umat dengan mengolah kata dan bersilat lidah. Demikianlah keadaan mereka.
Maka ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah ditanya oleh Ziyad bin Fudhail:
“Apa yang dapat menghancurkan Islam?” ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu menjawab: “Yang menghancurkan Islam adalah ketergelinciran seorang yang ‘alim (yang berilmu), dan seorang munafik yang berdebat dengan menggunakan al-kitab.”
Ini adalah bahaya laten bagi kaum muslimin. Mereka akan menyesatkan kaum muslimin dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menggunakan dalil-dalil syar’i namun bukan pada tempatnya.
Ulama Yang Jahat (Ulama Su’)
Demi Allah, pada masa ini, masyarakat kita dikepung oleh tipikal-tipikal pemimpin maupun tokoh yang seperti itu. Menyeruak di sekitar mereka, para ulama su` (jahat) yang dengan segala kelihain dan kelicikan, menyesatkan umat dengan berbagai syubhat dan kerancuan pemikiran. Oleh karena itu, kita dituntut untuk mewaspadai suasana genting ini, dengan mempelajari agama Allah Subhanahu wa Ta’ala dari para ulama yang mengamalkan dan memperjuangkan agama Allah dengan segala yang mereka miliki. Inilah satu-satunya penanganan yang paling efektif dalam menanggulangi gejolak fitnah yang sedahsyat itu.
Berapa banyak orang yang menyuarakan kebenaran, namun sedikit diantara mereka yang bisa menunjukkan bahwa yang benar itu adalah benar, dan dia benar-benar di atas yang benar . Oleh sebab itu, Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menegaskan: “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi dia tidak mendapatkannya.”
Para pemimpin atau tokoh penyesat umat lebih berbahaya bagi kaum muslimin daripada musuh-musuh Allah yang menyerang dari luar lingkup kaum muslimin. Apakah mereka dari kalangan Yahudi maupun Nashara. Kalau mereka dari kalangan orang-orang yang kafir, tentunya kebanyakan kaum muslimin waspada terhadap berbagai makar mereka. Namun bagaimana dengan musuh dalam selimut yang berbaju sama, berkopiah sama, dan berpenampilan sama seperti kaum muslimin, bahkan beramal pada sebagian amalan, sama seperti kaum muslimin. Mereka shalat seperti kaum muslimin, dan berbicara dengan lisan/bahasa kaum muslimin. Akan tetapi mereka adalah para penyeru kepada neraka jahannam.
Di dalam hadits Hudzaifah bin Al Yamaan radhiyallahu ’anhu disebutkan:
“Ya, para da’i yang mengajak kepada pintu-pintu neraka jahannam. Barangsiapa yang memehuhi panggilan mereka, mereka akan mencampakkannya ke dalam neraka jahanam itu.” Aku bertanya: “wahai Rasulullah! Sebutkan ciri-ciri mereka kepada kami”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mereka dari jenis kita dan berbicara dengan lisan-lisan (bahasa-bahasa) kita.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Inilah bahaya laten yang sangat kejam dalam membinasakan kaum muslimin . Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa ilmu.” (Al-An’am: 119)
“Tetapi orang-orang yang dzalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan, maka siapakah yang akan menunjuki orang yang telah disesatkan oleh Allah? Dan tiadalah bagi mereka seorang penolongpun.” (Ar-Rum: 29)
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan kita dari kejahatan para tokoh penyesat umat. Wallahu a’lam bish shawab

Perlunya Pendidikan Berkarakter


Dalam era sekarang ini, pendidikan berkarakter sangat perlu diperdalam oleh setiap guru yang mengajar di sekolah. Hal ini tiada lain dalam upaya membentengi moralitas pelajar agar tidak terpengaruh oleh hal-hal negatif. Sebaiknya pembentukan pendidikan karakter ini dimulai sejak usia dini, karena bila karakter sudah terbentuk sejak usia dini, maka anak tidak akan mudah terpengaruh oleh hal-hal yang berbau negatif.

Pendidikan berkarakter juga harus bisa terintregrasi dengan baik dalam membangun kepribadian anak didik. Karena dengan adanya pendidikan berkarakter ini, setidaknya dalam proses pendidikan dapat membangun manusia Indonesia yang berkarakter. Dengan kata lain, keberhasilan pendidikan itu tidak hanya dari segi akademik semata, melainkan moralitas juga dapat terbangun dengan baik dalam diri para generasi muda dewasa ini.

Namun untuk keberhasilan pendidikan itu sendiri, tidak berpusat dari faktor guru dan fasilitas belajar mengajar semata. Melainkan disertakan adanya partisipasi masyarakat dan keluarga khususnya orang tua juga turut berperan penting dalam menunjang keberhasilan pendidikan berkarakter ini. Sebab waktu seorang anak di sekolah jauh lebih sedikit ketimbang waktu mereka di rumah bersama orang tuanya.

Diterapkan pendidikan berkarakter, merupakan harapan semua pihak agar dapat melahirkan didikan-didikan yang mampu menjawab tantangan jaman, serta tidak terimbas oleh pengaruh negarif. disamping itu juga bisa melahirkan generasi yang mandiri dan bertanggungjawab serta mampu membuka lapangan pekerjaan dengan kemampuan enterpreneur yang dimiliki.

Kita sadari bersama, bahwa bangsa kita cukup banyak mengalami penurunan kualitas karakter, mulai dari masalah gontok-gontokan , kurang kerja sama, lebih suka mementingkan diri sendiri, golongan atau partai, sampai kepada sarat dengan korupsi, kolusi dan nepotisme. Persoalan ini muncul karena lunturnya nilai-nilai karakter yang ditanamkan sejak dini, terkait karakter perilaku, kebiasaan, kesukaan, kemampuan, bakat, potensi, nilai-nilai, dan pola pikir.

Dengan kata lain bahwa membangun insan berkarakter merupakan upaya kesadaran dalam memperbaiki dan meningkatkan seluruh perilaku yang mencakup adat istiadat, nilai-nilai, potensi, kemampuan, bakat dan pikiran bangsa kita ini. Memang untuk mewujudkan insan berkarakter ini memerlukan waktu dan upaya. Namun alangkah baiknya diawali dari lingkup yang terkecil seperti keluarga dan sekolah yang dilaksanakan dengan menganalogikan proses pembelajaran. Tentu saja dilaksanakan melalui pembelajaran yang dapat mengadopsi semua nilai-nilai karakter bangsa yang akan dibangun.

Pacaran Berkedok Ta'aruf Makin Marak di Dunia Maya

belakanagn ini ta’aruf mengalami penyempitan makna. Bahkan dalam praktiknya, banyak yang mengidentikkan ta’aruf dengan pacaran. Salah satu penyebabnya adalah maraknya ta’aruf yang dilakukan oleh para ikhwan maupun akhwat di dunia maya. Padahal, sejatinya yang mereka lakukan itu adalah pacaran berkedok ta’aruf, karena dalam aksinya, tiada lagi hijab dalam interaksi bagi akhwat dan ikhwan bukan mahram, seakan bebas landas, curhat di jejaring sosial facebook, hujat-hujatan. Itulah pacaran terselubung dengan membawa topeng ta’aruf.
Ikhwan-ikhwan yang menggunakan profil islami tak pernah kehabisan ide dalam melegalkan pacaran. Jika orang-orang yang tidak membawa agama berani terang-terangan mengatakan pacaran, tapi tidak dengan pemuda pemudi yang berciri khas agama, mereka berpacaran dengan embel-embel ta’aruf.

Entah apa yang ada di benak mereka, apakah ta’aruf dipahami sesuai syariat atau sengaja menyelewengkan dari makna yang sebenarnya, banyak ikhwan dengan mudahnya mengatakan ingin ta’aruf dengan akhwat yang diincarnya melalui dunia maya tanpa perantara pihak ketiga.

Komentar-komentar di jejaring sosial sudah sulit lagi dipilah, mana yang untuk umum mana yang harusnya dijadikan rahasia dirinya dengan Allah, facebook menjadi keranjang sampah juga menjadi diary bagi sebagian orang. Akhwat dan ikhwan berpacaran pun sudah mulai berani membuat status in relationship dengan pasangan yang disebutnya sedang ta’aruf.

… Komentar-komentar di jejaring sosial sudah sulit lagi dipilah, mana yang pacaran dan mana yang ta’aruf. Belum ada ikatan apapun mereka sudah berani memanggil umi-abi…

Tak sedikit juga ikhwan genit dan akhwat ganjen saling memberi perhatian di tempat umum. “Sudah shalatkah ukhti? Jangan telat makan ya..” tulis sang ikhwan. Sang akhwat pun tak mau kalah, membalasnya dengan kata-kata senada, “Syukron ya akhi atas perhatiannya, semangat belajar ya.”

Ada pula komentar yang lebih liar, “Eh iya ukhti kelihatan anggun dengan jilbab itu, hehehehe.” Maka si akhwat balik menjawab, “Ah, akhi nih bisa aja, ntar ana GR nih, heeeeee…” Masya Allah, itukah yang disebut ta’aruf?

Dulu penulis banyak menemukan pencerahan di dunia maya dengan banyak berteman, namun jadi ilfil (ilang feeling) setelah mengetahui sepak terjang beberapa ikhwan akhwat, teriaknya agama, tapi murah terhadap lawan jenis, menebar simpati dan basa-basi.

Mereka memakai kedok ta’aruf untuk melegalkan pacaran. Belum ada ikatan apapun sudah berani memanggil “umi-abi” atau “abang-adik.” Tak sedikit pula ditemui akhwat berjilbab lebar yang masih membudidayakan pacaran. Tanpa malu-malu lagi. Apakah semua itu dilakukan karena ketidaktahuan akhwat tentang bagaimana Islam mengatur pergaulan dengan lawan jenis? Wallahu a’lam. Yang pasti ada juga yang biasa berkomentar pacaran haram, tapi dirinya masih juga berpacaran, namun memakai kedok ta’aruf. Padahal praktiknya sami mawon.

…akhwat jangan mudah terpedaya pada ikhwan di dunia maya yang belum diketahui secara jelas identitasnya…

Hendaknya benar-benar lurus memahami kata ta’aruf seperti yang diajarkan oleh Nabi kita, jangan sampai menjadikan ta’aruf untuk menghancurkan keagungan Islam. Telah jelas dalam Islam, bagaimana hendaknya kita menjaga diri kita agar tidak terjatuh pada perkara-perkara yang membuat Allah murka. Jangan memakai istilah ta’aruf jika hanya sebatas ingin menjadi uji coba bermain hati.

Hati akhwat biasanya lembut dan mudah tersentuh, korban yang pertama akan merasakan terluka oleh ta’aruf coba-coba tadi tentunya para akhwat. Begitu juga para akhwat, jangan mudah terpedaya pada ikhwan dunia maya yang belum diketahui secara jelas identitasnya. Apa yang ditampilkan dalam dunia maya, profil, kata-kata, tidak dapat dijadikan tolak ukur untuk menilai karakter yang sesungguhnya, juga tidak dapat cukup untuk menggambarkan pribadinya secara utuh, tetap waspada.

TIDAK ADA ISTILAH MANTAN PEZINA DALAM ISLAM (dilarang menghina orang yang sudah bertobat)


Pertanyaan: Ustadz, saya dulu jarang shalat, apalagi ketika iman lemah dan sedang dikuasai hawa nafsu, (dan ketika) syahwat saya menggebu-gebu kemudian saya melakukan perzinaan, dan saya ulangi itu beberapa kali, meski saya berjanji tidak akan melakukan itu lagi. Dan apakah mungkin saya juga bersanding dengan seorang pezina dan bagaimana cara taubat yang benar?



Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah atas hidayah yang Allah berikan kepada anda. Wajib disyukuri oleh anda dan kita semua. Sebab perzinaan itu pengaruh jeleknya bukan pada pelakunya saja, tetapi juga pada masyarakat. Kemudian anda bertaubat, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Luas Rahmat-Nya dan Maha Pengampun. Jangankan hanya perzinaan, bahkan semua kemungkaran, kemaksiatan, dan yang paling besar berupa kekufuran saja, Allah masih mau menerima taubat hamba-Nya. Firman-Nya, “Allah itu mengampuni dosa semuanya.” Maka anda hanya perlu bertaubat, semua yang telah lalu insya Allah, Allah ampuni dan anda pindah status dari pezina kepada muslim yang baik.

Tidak ada dalam Islam istilah mantan pezina, bahkan para PSK yang mungkin berzina berkali-kali bahkan berpuluh-puluh kali, bila dia bertaubat, dia berpindah dari PSK menjadi muslimah yang biasa dan tidak boleh dikatakan mantan PSK. Itu nggak boleh! Sebab taubat itu menghapus semua yang telah lewat. “Taubat itu menghapus yang sebelumnya,” demikian kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga, anda jika bertaubat maka menjadi muslim yang baik kembali dan anda tidak boleh menikah dengan pezina. Dan anda, insya Allah, akan mendapat muslimah yang baik, bila anda istiqamah dengan kebaikan yang Allah berikan kepada anda tersebut.

Adapun cara bertaubatnya sebagai berikut:
1. Menyesal.
2. Berniat dan bertekad dengan keras untuk tidak mengulangi hal tersebut.
3. Menjauhi tempat-tempat yang memungkinkan anda untuk kembali mengulangi perbuatan zina lagi.

Dan yang selebihnya, ada adab yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam anjurkan kepada kita semua yaitu shalat dua rakaat sebagai wujud kesungguhan kita untuk bertaubat kepada Allah. Sehingga dengan demikian mudah-mudahan Allah menerima taubat saudara dan kemudian saudara bisa kembali istiqamah dengan belajar ilmu agama. Dan kemudian, bila sudah punya kemampuan, segeralah menikah dengan muslimah yang baik dan taat, supaya nanti bisa menjaga diri anda dari mengulangi perbuatan yang telah lalu (zina).

BIARKAN CINTA BERSUJUD KEPADA ALLAH

Biarkan cinta bersujud kepada Allah sehingga cinta menjadi tak bersyarat, kuat tangguh, tak lekang oleh waktu. justru Allah menguji kita melalui orang-orang yg kita cintai menyakiti, mengkhianati kita namun akhirnya kembali menyesal meminta bantuan kita kemudian kitapun memaafkan, menguatkan menolongnya. Itulah cinta, tak bersyarat apapun. Ada Ibu muda mengeluhkan perkawinannya yang terbilang muda sedang dihadapkan masalah. Semasa gadisnya adalah orang yang mendiam, merasa memiliki banyak kekurangan, berasal dari keluarga ‘broken home.’ Sampai kemudian mengenal seorang pemuda yang mampu membuatnya menjadi periang sampai kemudian menikah. Di awal perkawinan terasa indah, dengan dihiasi canda tawa bersama-sama. Namun semua itu perlahan menjadi berubah, ditengah kesibukan masing2 bekerja, jarang ada percakapan, apalagi sampai bercanda. Bukan karena cinta telah hilang tetapi lebih karena berhati-hati agar tidak melukai perasaan suami.
Terkadang suami melontarkan kata-kata kasar. Dia sebagai istri takut salah ngomong atau menyinggung perasaan pasangan hidupnya. Pernah dulu sewaktu belum menikah, Ibu mertuanya mengingatkan agar bersabar karena suaminya adalah orang yang inconstant karena itu istri lebih memilih diam daripada berlarut2 dalam pertengkaran. Sang istri mengerti maksud suami mengingatkan atau menasehati tetapi seringkali istri tersakiti hatinya oleh ucapan suami yang kasar. Disaat seperti itulah istri merasa bersalah berdosa karena telah membuat marah suami. Tak bisa memberikan support, tak bisa menjadi yang terbaik sebagai pendamping hidup bagi suaminya. “Ya Allah, Kenapa terasa berat menjalani hidup ini?” Jeritan hatinya.
Ditengah keterlukaan, perih dan kecewa. Keberserahan diri, membiarkan cintanya bersujud kepada Allah. Dalam kesendirian dia banyak berintropeksi diri, betapa dirinya jauh dari Allah. Ibadah sholat fardhu tidak pernah ditunaikan dengan baik, kehidupan rumah tangga kering kerontang dari tuntunan agama. Nikmat materi yang berlimpah tidak pernah disyukuri sehingga membuat terasa hambar didalam hidupnya. Perlahan mengokohkan imannya. Sholat fardhu dikerjakan dengan tertib. Kepedulian terhadap orang-orang yang membutuhkan lebih mudah dilakukan. Pada satu kesempatan di Rumah Amalia juga berbagi dengan berharap Allah memberikan ketenteraman kebahagiaan pada keluarganya. Disaat cinta bersujud kepada Allah. Perangai suaminya mulai berubah. Cinta dan kasih sayang menjadi tumbuh dan berbuah. Kebahagiaan di dalam keluarga, pasangan suami istri itu menjadi kokoh mengarungi bahtera kehidupan dalam menghadapi badai gelombang kehidupan hanya dengan menyandarkan diri kepada Allah. Komunikasi, saling menyesuaikan diri dengan pasangan, pengorbanan, ingin selalu memberi, memaklumi memaafkan hanya akan hadir bila di dalam hati mereka ada keimanan pada Allah maka Allah melimpahkan keindahan dalam keluarganya.
“Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang2 yang sabar, yaitu orang2 yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan, ‘Inna lillahii wa innaa ilaihi raajiuun’ (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadaNya kami kembali). Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurnah rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang2 yang mendapatkan petunjuk.”(QS. al-Baqarah : 155-157)

Masuk Islam itu Akal Harus Menyerah!


Salah satu makna Islam secara etimologi adalah “berserah diri”. Dalam segala hal, baik di dalam tindakan atau pemikiran. Maka pantas, keikhlasan jadi pahala yang luar biasa di dalam Islam. berserah diri bukan berarti pasrah terhadap hidup. Tidak seperti itu. Islam mempunyai pedoman Al-Quran dan Hadits yang jika Muslim mau menjalankan pedoman itu, maka dia pasti akan menjadi manusia yang baik dalam segala hal, baik dunia atau akhirat. Back to topic!

Jika melihat filsafat, maka batasan berfikir seolah tidak ada. Apapun boleh dipikirkan, dipertanyakan, bahkan dalam hal yang sangat radikal. Siapa Tuhan, dan kenapa dia ada?
Namun, di dalam Islam. Hal-hal pemikiran seperti itu, dilarang terjadi pada umatnya. Karena itu riskan menyeretnya dalam kesesatan. Baik sesat dalam pemikirannya, atau dalam tindakannya sendiri dalam beragama. Sekali lagi, mau tidak mau, jika sudah masuk ke dalam agama Islam. kesesatan berfikir, benar-benar hal serius yang harus dijauhi.

Al-Quran yang menginformasikan tentang keberadaan Wujud Yang Abadi (Allah SWT) yang menciptakan alam semesta sekaligus yang mengaturnya. Sebetulnya itu sudah merupakan jawaban dari pertanyaan dari “apakah Tuhan ada? siapakah Tuhan? dan kenapa Dia Ada?”.
Mungkin, untuk sebagian orang masih tidak akan membuat puas otaknya jawaban al-Quran pada pertanyaan itu. Kalau bagi saya, itu sudah cukup dan membuat otak liar saya berhenti menanyakan tentang sesuatu yang abadi yang mengatur alam semesta ini.
Siapakah Tuhan? Dialah Allah SWT. Kenapa dia ada? Karena Dia abadi! Nah, keabadian Allah sendirilah sebagai jawaban dari pertanyaanl itu. Dan menurut saya, akan menghentikan pertanyaan berikutnya. Kenapa dia ada? Siapa yang menciptakannya? Abadinya Allah SWT adalah jawaban mutlak bahwa sesuatu yang abadi, tentu tidak harus dipertanyakan bagaimana ia tercipta, apalagi siapa yang menciptakannya. Karena yang abadi, tidak ada istilah awal dan akhir! Apakah ada pertanyaan lain?

Jadi keabadian Allah itu yang dijelaskan di dalam Al-Quran sudah menjawab pertanyaan kenapa dia ada? Darimana dia berasal? Bagaimana dia tercipta? Nah, kalau sudah tahu jawabannya, kenapa harus ditanyakan lagi?

Eh iya, ada jawaban menarik yang diutarakan M Quraish Sihab di dalam Wawasan Al-Quran menyangkut kenapa wujud Allah tidak terlihat tapi dianggap ada. Jawabannya menarik. “Karena, sesuatu yang keberadaannya sangat terasa, itu tidak membutuhkan wujud yang dapat terlihat”. Kurang lebih seperti itu bahasanya.

Allah yang maha kuasa, memang tidak akan pernah bisa terpikirkan oleh manusia. Karena itu, “Berfikirlah tentang ciptaan Allah, dan jangan memikirkan Dzat-nya”.

Jadi itu, intinya. Berserah diri. Allah menyuruh hambanya agar memikirkan ciptaan-Nya (Diri sendiri dan Alam semesta). Jangan memikirkan Dzta-Nya. Apakah tetap mau membangkang-Nya? Karena pemikiran katanya tidak ada batasnya? Yah, selama tidak ada jawaban yang dianggap rasional, siapa sih yang merasa puas? Akhirnya, keimanan jualah yang akan menentukan seseorang berserah diri atau tidak dalam segala halnya di dalam beragam Islam.
Wallahu A’lam!

NILAI SEBUAH KEJUJURAN

Kejujuran adalah salah satu faktor penting dalam penyucian jiwa dalam menggapai cinta kita kepada Allah swt, tanpa ada kejujuran dalam jiwa kita mustahil hati kita bisa tenang. Dalam menjalakan kehidupan sehari-hari perasaan kita selalu diliputi rasa was-was atau gelisah. Ketika manusia sudah mulai tidak jujur terhadap manusia yang lain, maka mulailah muncul perseteruan, pertengkaran, percekcokan, perselisihan dan berujung pada penghilangan nyawa seorang manusia.
Ketika manusia sudah tidak jujur dengan alam, maka mulailah kehancuran alam, ilegal logging yang berujung pada kemurkaan alam dengan longsor, banjir, semburan gas alam, semburan lumpur yang berujung pada musnahnya juga aspek-aspek penting dan semua pengisi alam termasuk manusianya itu sendiri. Dan ketika manusia tidak lagi jujur dengan Tuhannya, maka kemurkaan Tuhan turun dan lebih seram dari kemurkaan alam, hasilnya? manusia tidak lagi sempat memohon ampun ketika Tuhan mencabut nyawa manusia itu.
Tanyalah kepada hati kita apa yang terbaik untuk membalas kejujuran yang di berikan seseorang pada kita.. paling penting kejujuran tak ada nilainya dan tak ada di jual di mana-mana sekali pun kita tawarkan harga yang paling tinggi untuk memilikinya..

Walaupun ada kalanya kejujuran di balas dengan kekecewaan tapi tak semua begitu, aku masih percaya akan adanya kebaikan dalam setiap kejujuran yang di berikan...

Berapa harga sebuah kejujuran?

Walaupun untuk bersikap jujur memerlukan seribu alasan dan ada masanya kejujuran itu akan membawa kepada sesuatu yang tidak kita duga tapi percayalah penghujung nya tetap akan ada manisnya...

Mana ada manusia yang jujur seratus persen ?, sedikit sebanyak tetap ada rahasia yang tersimpan rapi.. itu hak pribadi jadi tak perlu di persoalkan..

dalam peristiwa yang nampak jujur tetap ada rahasia di sebaliknya, dan ada juga yang jujur tapi ia tak jelas akan kejujuran itu..

semua tu datang dari hati bukan dengan paksaan.. tak ada siapa yang memaksa siapa untuk bersikap jujur, tapi percaya lah andai kita jujur dengan diri kita sendiri maka hati dan pikiran kita akan lebih tenang dan lebih fokus dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam menggapai cinta Allah.
Wassalam